Siaran Pers

” Modus Gang Rape & Kekerasan Seksual Menyebar”

PERLU TINDAKAN CEPAT DAN TEGAS

Dalam rangka memperingati Hari Ibu Internasional yang diperingati setiap 12 Mei Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA) menyatakan keprihatinan maraknya kekerasan seksual dan modus gang rape, serta semakin lemahnya perlindungan hukum terhadap perempuan. Aksi kekerasan dan pemerkosaan oleh kelompok yang menyatakan diri ‘geng motor’ adalah PERINGATAN KERAS bahwa Gang Rape (perkosaan dilakukan secara berkelompok/lebih dari satu pelaku) telah semakin menyebar dan mengancam rasa aman bagi perempuan dan masyarakat.

Kekerasan seksual dan gang rape pada dasarnya adalah mempertontonkan pembangkangan terhadap hukum, menjadi ajang pamer kekuatan dan kekuasaan, dan kelakuan ini ditujukan kepada perempuan dan kelompok lemah lainnya yang tidak mempunyai kekuasaan untuk melawan. Melakukan kekerasan secara berkelompok juga diyakini sebagai modus untuk tidak menjadi pelaku tunggal, tapi ‘tanggung-renteng’, khususnya dengan membawa nama gang atau kelompok yang berbau premanisme. Salah satu kasus gang rape serta perampokan yang sampai saat ini tidak diselesaikan adalah kasus yang terjadi di 22 Desember 2012, di Sidikalang.

Sebanyak 6 orang pelaku, dua di antaranya telah mengaku memperkosa; tetapi semua pelaku ditangguhkan penahanannya oleh pihak kepolisian dengan alasan; berkas tidak lengkap dan korban menghilang, sehingga tidak dapat dikonfrontir. Lepasnya jerat hukum terhadap pelaku pemerkosaan ini serta lemahnya perspektif gender para APH telah memperlemah kemampuan negara dalam penghapusan kekerasan yang dialami perempuan.

Oleh karenanya PESADA menyatakan sikap sbb :

1. Aparat penegak hukum dapat proaktif melakukan terobosan hukum dalam penyidikan kasus gang rape sehingga dapat menjerat pelaku dengan hukuman seberat-beratnya sesuai UU, agar menjadi efek jera tidak berulangnya kasus-kasus serupa di tengah-tengah masyarakat.

2. Menuntut pihak kepolisian agar dapat bertindak tegas terhadap segala bentuk praktek premanisme dan memberikan jaminan rasa aman bagi perempuan di arena manapun.

Segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual dan gang rape harus dicegah dan negara bertanggung-jawab bagi keamanan perempuan dan seluruh warganya.

Sidikalang, 13 Mei 2013

Ramida Sinaga

Direktur Eksekutif PESADA

Contact Person :

1. Herli Sipayung ( 081260260910)

2. Dina Lt. (082164666615)

CERITA IBU TANI HUMBAHAS

(Tulisan dari lapangan oleh Mei Siagian)

Foto pada saat Penabungan di Poriaha, Mei 2013

Foto pada saat Penabungan di Poriaha, Mei 2013

Sejak awal 2013, Mei bertugas di daerah Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah. Di bawah ini, Mei yang rajin  menggoreskan tulisan dari desa-desa yang dia jalani untuk kita pelajari.

 

Di Humbang, sayur kami hanya dihargai Rp.5.000,-

“Soal bertani, orang Dolok Sanggul terkenal dengan sebutan: Manusia Kuda. Kami berusaha keras, jungkir balik untuk mengolah tanah gersang ini menjadi menghasilkan. Masalah yang kami hadapi sekarang adalah harga yang tidak bisa dikendalikan. Bicara soal lahan kami tidak kekurangan, yang perlu adalah jaminan harga pasar.” Ungkap Inang Tioma, salah seorang anggota kelompok kebun keluarga di Humbang Hasundutan. “Adalah kebiasaan menjungjung kotoran ternak dari rumah ke ladang. Kepala kami tidak pernah kosong, selalu membawa segoni ugan-ugan (kompos buatan dari kotoran dan campuran abu  bakar). Apabila kepala seseorang kosong hendak ke ladang biasanya akan diejek/dikatakatai sebagai pemalas,” tambahnya. Sayur mekar di tanah yang gersang. Sebab tanah di Dolok Sanggul terkenal gersang, tanah berpasir dan tanah liat (Desa Purba); tapi bisa menjadi penghasil sayur.

“Aku masih ingat tahun lalu sewaktu kreta (sepeda motor) kami belum ada, membawa sebeko sayur pukul 04.00 dini hari dengan ibu-ibu desa ke pusat pasar  pajak Dolok Sanggul jalan kaki. Sesampai di pasar akan berebut mengejar toke yang dengan angkuhnya menawar murah sayuran kami. Hanya Rp.10.000  untuk segoni penuh kol atau sawi; bahkan paling ngeri pernah cuma Rp.5000. Daripada dibawa pulang lebih baik kami jualkan, walaupun dihitung-hitung modal tidak kembali.” Kisah ibu Erika S dampingan CU.Aek Sibundong.

Sayur-sayur dan tongkol jagung dipanen dengan semangat. Betapa bahagianya mereka menuai, namun saat mereka menjujung ke pasar dengan keringat; hanya dihargai duit limaribu.

 

Di Parlilitan (Silencang & Batu Gajah), kami tergantung pupuk.

“Secara berlahan tanpa kami sadari, musim telah berganti 20 tahun terakhir ini. Dahulu kami panen padi sekali dalam  setahun tetapi sekarang dua kali panen padi. Hampir nonstop mengolah sawah sepanjang tahun. Kebun-kebun kurang terpelihara, jauh lebih berharap kepada hasil sawah (padi), karena harga padi jauh lebih stabil dan daripada tanaman lain, dan terus  laku  dijual di pasaran.” Ungkap Suami ibu Harahap dampingan CU Lae Kejaren. Hal yang hampir sama diungkapkan ibu-ibu dari CU.Maju Bersama Silencang.

Tanah Parlilitan dikenal dengan tanah kanaan (tanah yang berlimpah susu dan madunya, tanah emas, tanah surga) karena tanpa pupuk tanaman tumbuh subur bisa menghasilkan.  Sejak dahulu  disini orang jarang bertanam sayuran atau tanaman muda lainnya. Para perempuan biasa ke sawah dan kaum laki-laki ke hutan, biasanya cari haminjon (kemenyan), karet dan tanaman hutan lainnya.

Setiap keluarga biasanya memiliki lahan kebun dan sawah  yang relatif luas.  Setiap kebun biasanya banyak jenis tanaman seperti coklat, kopi, kacang, jagung, tanaman palawija namun kurang terurus. Diakui mereka pengetahuan tentang bercocok tanaman palawija sangat terbatas. Sekarang ketergantungan terhadap pupuk pun mulai bertambah. Tanah dipaksa untuk menghasilkan padi dua kali dalam setahun (bibit local dan bibit unggul/pendek umur) membutuhkan asupan pupuk lebih. Hama-hama makin berlimpah.

 

Tradisi Syukuran yang berubah.

Betapa bersyukurnya petani pada tanah yang dipijak dan langit yang memberi mereka hidup. Beberapa tradisi nenek moyang masih terpelihara hingga kini.  Pada masa pembibitan, mereka adakan  partangiangan (doa bersama) di Gereja dan sholat di Mesjid. Ada  yang makan itak gurgur ( tepung beras mentah campur  kelapa dibentuk dengan kepalan tangan).

Apabila panen tiba mereka akan merayakannya dengan pesta gotilon (memberi sebagian hasil panen ke greja). Untuk acara syukuran keluarga, mangamoti (makan beras baru secara bersama, berpantang makan beras baru sebelum kumpul seluruh anggota keluarga). Untuk saat ini doa-doa untuk meminta hujan lebih sering karena pergantian musim yang kurang teratur.

Pada masa penanaman padi kebiasaan gotong-royong masih terpelihara. Kalau di Dolok Sanggul istilahnya marsadapari, kalau di Silencang marsirippa (bekerjasama untuk menanam padi secara bergantian dari satu ladang ke ladang yang lainnya, tenaga bayar tenaga).  Memang kebiasaan ini tidak lagi terpelihara secara utuh. Adanya pengaruh kemajuan jaman (teknologi pertanian) misalnya traktor mengurangi pekerja, pupuk kimiawi menghilangkan budaya pupuk kandang, kompor gas membuat tak ada lagi abu kayu bakar (ugan-ugan), budaya uang mengganti tradisi marsirippa menjadi marari-ari/gajigajian (buruh tani) ketimbang gotong-royong, pergeseran kepercayaan  dan lain-lain.

 

Masalah  Petani.

Umumnya masalah adalah penyakit cabe keriting dan busuk kering, busuk setengah padahal  masih muda. Pada sayuran: ulat-ulat, kanker akar, mati gadis, becek daun. Untuk kopi, busuk buah. Masalah-masalah ini masih kerap dihadapi para petani. PESADA melakukan pelatihan pembuatan pupuk  kompos/bokasi dan pupuk cair serta pestisida organik. Kebiasaan penggunaan pupuk kimiawi menghilangkan kepercayaan akan khasiat pupuk organik tersebut, dan budaya latah petani yang menggunakan pupuk kimia. Kondisi tanah yang sudah sangat ketergantungan terhadap pupuk kimiawi juga menjadikan pupuk organik tidak cukup.

 Ketika mengadakan diskusi mengenai penanganan hama perkelompok CU, kami berusaha mengundang suami dan keluarga anggota; namun sangat susah. Banyak suami tidak tertarik kepada pertanian sayuran dan kerjanya biasanya tidak diladang (suami banyak bekerja di luar desa). Pada tanggal 8 sampai 9 Maret yang lalu, PESADA juga melakukan “Training motivasi, perencanaan dan managemen bisnis pertanian” untuk 30 orang dampingan anggota CU di Humbahas.  Selama dua hari itu peserta diajak untuk kembali melihat secara sadar masalah-masalah pertanian yang mereka hadapi. Mulai dari masalah penanganan hama, penghitungan modal usaha selama masa pembibitan sampai kepada pemasaran. Kemudian perencanaan usaha pembuatan  dan pemasaran bibit lokal, pupuk dan pestisida organic.

 

Petani Bukan Pemalas.

Sering sekali petani menyalahkan diri sebagai pemalas. Saya sendiri mengatakan, “tidak.” Apabila berjalan siang hari di desa, maka jarang sekali pintu terbuka. Mereka ke ladang makan siang di sana, membawa anak usia bulanan ke sawah (di bawah pohon diayun dan dibungkus plastik); hingga sore kadang sampai gelap malam tiba di rumah. Di Dolok Sanggul, mereka tidak kekurangan sayuran, namun beras kurang cukup untuk setahun.. Mereka tidak kekurangan  tanah,  tetapi dari hasil pertaniannya sering sekali harga jual terlalu rendah. Murahnya hasil pertanian membuat mereka hanya sanggup membeli ikan asin yang sering sekali setengah busuk untuk makan bersama empat sampai enam anak  di rumah. Berbeda dengan di Parlilitan, mereka tidak kekurangan beras, tetapi kekurangan sayuran. Tidak kekurangan tanah, tetapi pengetahuan mengelola tanaman muda kurang ditekuni (Silencang-Batu Gajah).

 

PR Masih Banyak.

Dari perjalanan ini, bisa dilihat bagaimana persoalan harga yang dikendalikan pasar. Walaupun hasilnya baik tetapi petani tidak bisa mengontrol harga yang sering  berakibat kerugian (kejatuhan harga).Sementara pengetahuan  mengelola tanaman holtikultura masih kurang. Semua ini menjadi Pekerjaan Rumah, atau tugas-tugas yang harus segera diurus…Semoga… (MS)

Explore posts in the same categories: Info Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: