Merajut Asa Bersama Perempuan Penenun

Foto Perempuan dampingan PESADA sedang bertenun  di Sidabagas Samosir, 19 Mei 2013

Foto Perempuan dampingan PESADA sedang bertenun
di Sidabagas Samosir, 19 Mei 2013

Jika mendengar kata tenun, yang pertama terlintas di pikiran saya adalah ulos. Di Sumatra Utara, uloslah yang menjadi hasil tenunan. Dan yang biasa melaksanakan pekerjaan ini adalah perempuan. Bertenun bisa dilakukan di rumah, sambil menjaga anak, dan juga dilakukan setelah melaksanakan peran di rumah tangga lainnya, seperti memasak dan mencuci pakaian.

 

Pengalaman tahun 1999.

Pengalaman pendampingan penenun yang pernah dilakukan PESADA di Desa Silalahi II, Kecamatan Sumbul, kabupaten Dairi di tahun 1999 menunjukkan, banyak masalah yang dihadapi perempuan penenun. Perempuan penenun umumnya terjerat ke toke, yang menyediakan bahan baku (benang) untuk penenun dan juga menampung hasil tenunan, yang tentu saja dengan harga yang berbeda dengan harga pasar. PESADA mencoba memfasilitasi kelompok penenun untuk mandiri dalam mengelola penyediaan bahan baku dan membantu pemasaran ulos, dan penenun menikmati untung lebih banyak dibanding mereka menjual ulos ke toke. Kwalitas dan modifikasi tenunan juga masih menjadi persoalan. Penenun hanya mampu menghasilkan tenunan tertentu, karena sangat jarang peningkatan kapasitas untuk mereka. Ketrampilan tenun ini diturunkan ke anak-anak mereka secara langsung, tidak melalui sekolah/kursus.

Program khusus untuk penenun ini terhenti ketika kelompok ini dimandirikan, mereka mengelola sendiri kelompoknya. Anggota tidak disiplin lagi menjual ulos ke kelompok, menjual kembali ke toke secara diam-diam, sehingga perputaran modal kelompok menjadi macet bahkan terhenti.

Rencana Baru.

Sejak Mei 2013, kembali PESADA akan mendampingi penenun, di kabupaten Dairi dan kabupaten Samosir. Ini adalah berkat kerja sama dengan ASPPUK (Assosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) Nasional. ASPPUK adalah lembaga jaringan LSM yang bekerja untuk Perempuan dalam Usaha Mikro. PESADA adalah salah satu pendiri. Mereka melihat pentingnya persoalan ini, dan bersama membicarakannya dengan PESADA dan LSM anggota lainnya. Sesuai judulnya, Tenun Tangan Ramah Lingkungan, kegiatan ini akan mengenalkan penenun dengan tenunan yang menggunakan pewarnaan alami.

Bukan hanya ulos, kegiatan ini juga dilakuan di provinsi lain yang menghasilkan tenunan seperti songket untuk daerah Sumatera Selatan, Lurik untuk daerah Jawa, Ikat untuk daerah Kalimantan. Program ini  dilaksanakan oleh 11 NGO/ LSM 8 propinsi, 16 kabupaten di seluruh Indonesia. Pemetaan menunjukkan, Desa Silalahi di kabupaten Dairi dan Desa Lumban Suhi-Suhi sekitarnya merupakan pusat dari penenun. Di 2 desa ini mata pencaharian utama buat perempuan adalah bertenun untuk ulos suku batak Toba, Pakpak, Karo dan Simalungun.

Berbagai kegiatan baru dimulai.

Tujuan kegiatan ini adalah menjamin adanya produksi dan konsumsi yang berkelanjutan dari tenun tangan ramah lingkungan dan memutus rantai ketergantungan sehingga perempuan kuat, mandiri dalam mengelola ekonomi keluarga. Kegiatan yang dilakukan sepanjang 2 bulan ini di 2 wilayah ini adalah:

1.       Melakukan survey penenun.

Hingga saat ini, hasil survey menunjukkan, ada 36 penenun di Desa Sidabagas dengan nama “Kelompok Abdi“ 18 orang perempuan, dan Lumbansuhi “Kelompok Horas“ 18 orang. Di kabupaten Dairi sebanyak 42 orang perempuan dengan nama Jarpuk “Dairi, kelompok “Bawang Merah Silalahi. Rata – rata usia untuk perempuan penenun buat daerah Samosir 20 tahun-45 tahun, dan untuk Silalahi 25 tahun-60 tahun. Hasil survey juga menunjukkan bahwa bertenun pada umumnya pekerjaan utama mereka dengan keuntungan yang diperoleh dibawah Rp 5.000.000,-/tahun. Artinya upah penenun sangat minim, hanya sekitar Rp 30.000,-Rp 50.000 per hari. Semua penenun masih menggunakan bahan kimia dalam bertenun, dan membuang sembarangan limbah yang dihasilkan dalam kegiatan bertenun ini.

2.    Diskusi bulanan untuk dampingan tenun

Untuk membuka akses penenun atas informasi dan juga membangun kesadaran kritis, PESADA melakukan diskusi kelompok setiap bulannya. Sampai saat ini limbah produk tenun, yaitu limbah cair (sisa-sisa untuk lem dan pewarna) dan limbah padat (sisa-sisa untuk benang). Limbah tersebut sampai saat ini dibuang disembarang tempat, dibuang kesungai, menyiram tanaman dll. Menurut informasi dari Desa Lumban Suhi pernah limbah cair tersebut diberi untuk makanan ternak yang banyak mengandung zat pewarna, kimia yang membuat ternak tersebut mati. Disarankan buat perempuan penenun ketika mewarnai benang disarankan mencuci kedua tangan dengan bersih. Nantinya, diharapkan kelompok ini akan memakai pewarna alami yang lebih sehat.

3.  Manajemen Usaha (pemasaran)

Menurut survey untuk 2 kabupaten. Jangkauan untuk pemasaran produk tenun hanya dilingkup desa tersebut, belum pernah mendapat bantuan untuk memasarkan produk tenun. Pemasaran mereka sebatas penenun dengan rentenir, dimana rentenir yang menyediakan bahan, dana (pinjaman) yang terlebih dahulu diserahkan buat penenun, karena penenun masih kurang modal. Harga produk tenun tersebut tergantung dari rentenir.

Atas kesepakatan bersama, kedua kelompok menjadikan CU sebagai pengikat, (Silalahi, Sidabagas, dan Lumbansuhi ) dan jalan agar tidak terjerat ke rentenir.

4.       Advokasi & Lobby ke pemerintah

Hingga saat ini, belum ada alokasi dana untuk penenun, sehingga ke depan perlu dilakukan advokasi ke pemerintah untuk perlindungan penenun dan keterlibatan mereka dalam pameran local, nasional dan internasional sebagai salah satu promosi untuk tenunan. Harapan PESADA, melalui kegiatan ini, akan semakin banyak penenun yang termotivasi untuk berorganisasi, meningkat ketrampilannya sehingga semakin sejahtera. Semoga asa yang dirajut seindah tenunan yang dibuat. (SS& RS).

 

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: