Perempuan & Keluarga Harus Tetap Survive (Respon Kenaikan Harga BBM)

BBM

Perdebatan Kenaikan Harga BBM Naik.

Per tanggal 22 Juni 2013, pemerintah RI memberlakukan harga baru bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi premium naik Rp 2.000 menjadi Rp 6.500 per liter dan solar naik Rp 1.000 jadi Rp 5.500 per liter. Kenaikan harga BBM bersubsidi ini adalah keempat kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menaikkan harga BBM selama masa pemerintahannya. Pemerintah meIalui berbagai media telah mensosialisasikan alasan pemerintah untuk menaikan harga BBM bersubsidi. Pemerintah beralasan bahwa semakin meningkatnya pengeluaran negara yang dapat mengganggu pondasi keuangan Negara, namun kita heran bagaimana penyelenggara negara asyik melakukan korupsi dan mengemplang pajak. Statement Presiden agar masyarakat berhemat energy namun tak diikuti birokrasi dengan penghematan pengeluaran.

Tak sedikit masyarakat yang tidak setuju dengan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut. Berdasarkan UUD 1945, Pemerintah menguasai sumberdaya minyak untuk kepentingan rakyat sebesar-besarnya. Namun yang terjadi bahwa banyak perusahaaan minyak asing yang menguasai hulu perminyakan di Indonesia, seperti Chevron, Exxon Mobile, Caltex, Shell, dan British Petroleum. Sekitar 85 persen industri minyak kita dikuasai sektor asing, “Jadi siapa yang diuntungkan di balik makin mahalnya BBM adalah perusahaan minyak asing yang bercokol di republik ini. Perlu ditegaskan bahwa subsidi adalah hak rakyat demi melindungi rakyat atas keterpurukan ekonomi.

BLSM “Memiskinkan” Rakyat.

Pemerintah optimis bahwa memberikan kompensasi kenaikan harga BBM akan membantu masyarakat miskin tidak terkena dampak kenaikan harga-harga barang dan jasa. Berbagai jenis kompensasi BBM yang telah dan akan terus dilanjutkan pemerintah diberikan kepada masyarakat adalah Program Keluarga Harapan (PKH), Bedah Rumah, Beras Miskin, Beasiswa Siswa Miskin, Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). “Hanya saja pembiayaan kompensasi tersebut  bersumber dari utang luar negeri, bukan dari pemangkasan subsidi BBM, “kata M Aminudin, peneliti dan Direktur Institute for Strategic and Development Studies (ISDS). Penyaluran BLSM kali ini sama dengan BLT di masa lalu. Pemerintah menyalurkan Rp. 150.000 bulan selama 4 bulan ke depan. Dalam prakteknya banyak tak tepat sasaran, digunakan untuk pencitraan politik menjelang pemilu, pungli, dll.

Imam Prasodjo, sosiolog UI menyebutkan bahwa lebih tepat penyaluran cash BLSM diubah menjadi tabungan. Bantuan BLSM menjadi perangsang warga miskin menabung, sebab dengan menabung akan mendorong warga miskin berhemat dan tetap menabung ditengah krisis. Pendekatan tabungan  akan lebih mendidik orang miskin daripada BLSM  mempertontonkan orang miskin berdiri mengantri menunggu pencairan dan memelihara sikap boros di masyarakat.

Kebun Keluarga 

Kebun keluarga yang saat ini digagas PESADA, dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi tingginya pengeluaran keluarga untuk kebutuhan pangan. Memanfaatkan lahan pekarangan sekitarnya untuk menanam berbagai tanaman pangan, ternak pekarangan, dan obat herbal secara organic akan membantu ketahanan pangan keluarga. Tentunya peran seluruh keluarga untuk berbagi pekerjaan di rumah akan menentukan berhasilnya kebun keluarga. Jika ketahanan pangan keluarga terpelihara maka dengan sendirinya akan menyumbang ke ketahanan pangan nasional terwujud meskipun ditengah krisis kenaikan harga BBM. Pertanyaannya, apakah hal ini membantu mengatasi masalah yang dihadapi perempuan?

Dampak BBM terhadap Perempuan

Kenaikan harga BBM bersubsidi ini sangat berpengaruh ke berbagai sector ekonomi rumah tangga, usaha kecil mikro, perusahaan yang menyerap banyak tenaga kerja, dll. Kenaikan harga pangan, ongkos perjalanan, dan pengeluaran keluarga lainnya  pun tak terelakkan. Mahalnya harga pangan saja menyumbang 70 % tingkat inflasi (baca: naiknya harga secara umum, terus menerus yang dipengaruhi mekanisme pasar) di Indonesia yang saat ini inflasi tahunan per Juni 2013 di angka 5,9 % (Bank Indonesia). Untuk inflasi bulan Juni  2013, inflasi di Kota Sibolga merupakan angka inflasi tertinggi di Indonesia yang mencapai 1,96 %. Belum lagi nanti akan masuk masa pendaftaran sekolah, puasa dan diikuti Lebaran Idul Fitri efeknya akan sangat besar.

Demikian pula perempuan pengusaha kecil umumnya tidak bisa menaikkan harga jualannya meskipun ongkos produksi  semakin meningkat yang berakibat mengurangi pendapatan usahanya. Perempuan menjadi korban dari dampak langsung kenaikan BBM ini. Meningkatnya  pengeluaran keluarga membuat perempuan kesulitan mengelola keungan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Usaha adaptasi yang biasa dilakukan perempuan adalah menghemat dan mengurangi tabungannya. Bahkan tidak menabung, dan gizi keluarga atau untuk dirinya, menurun.

Yang perlu diperhatikan juga bahwa kesulitan ekonomi keluarga sering menjadi pemicu terjadi kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga. Ketegangan karena meningkatnya pengeluaran keluarga cenderung menimbulkan konflik yang berakibat ke terjadinya KDRT. Dalam hal ini, perempuan dan anak-anak sering menjadi korban. Jadi, upaya-upaya khusus untuk membantu keluarga dan perempuan sangat dibutuhkan untuk menjamin kelenturan rakyat dalam menghadapi sistim yang semakin memburuk saat ini. (KRS)

Iklan
Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: