Konsultasi

Tanya:      

Aku adalah seorang Ibu muda, berumur 21 tahun. Tinggal di kampung. Aku sudah mempunyai anak berumur hampir 2 tahun dari suami yang berumur 32 tahun. Kami mempunyai anak setelah setahun menikah. Pernikahan kami sebenarnya tidak direstui orang tuaku, dan kami menikah hanya secara kecil-kecilan, secara agama dan disaksikan Kepala Desa. Aku hanya punya surat nikah Gereja, tidak ada surat lainnya. Suami saya selalu memperlakukanku dengan sangat kasar. Dia sering marah dan memukulku. Hanya karena hal-hal kecil, aku sudah biasa dipukul sampai berbekas. Saya sering malu dengan tetangga. Aku tidak mempunyai pekerjaan, karena tidak diizinkan suami. Dulunya aku cukup mandiri, karena pernah bekerja di sebuah toko di kota. Sekarang saya harus selalu menunggu diberi uang. Itupun, aku sering dimarahin. Uang hanya sedikit diberi, terkadang hanya cukup untuk anakku saja. Aku juga tidak boleh makan sebelum suami pulang, padahal dia tidak pernah tentu jam pulangnya. Dia pulang sesuka hati, dan hampir setiap dia pulang, dia menemukan kesalahanku.

Beberapa kali aku lari pulang ke rumah orangtua karena dipukuli, tetapi kemudian suami selalu menjemputku; sehingga otomatis aku pulang kembali. Aku mengira dia akan berubah, tapi ternyata tidak. Hingga suatu hari, dia memukulku lagi. Aku lari…tapi belum sampai di rumah, dia sudah menjemputku dan tidak menemukanku di rumah orangtuaku. Akibatnya, dia mencurigaiku, dan tidak mengizinkanku lagi pulang ke rumah, maupun untuk bertemu dengan anakku. Apa yang bisa kulakukan? Aku masih ingin pulang, terutama untuk anakku. Aku tidak mengerti mengapa suami menjadi sekasar itu kepadaku.

 

Jawab:

Ibu, masalah Ibu memang sangat menyedihkan. Jarak umur yang cukup jauh ternyata membuat Ibu diperlakukan seperti anak kecil yang meperoleh perlakuan semena-mena.

Pada dasarnya kelakuan suami Ibu adalah yang disebut sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga/KDRT. Dalam Undang-undang Penghapusan KDRT, pemukulan merupakan tindakan kekerasan fisik yang dapat dikenai hukuman. Demikian juga membatasi Ibu untuk bekerja, merupakan tindak kekerasan psikis, dan membuat ketergantungan ekonomi kepada suami, yang semakin memberi ruang kepada suami Ibu untuk memperlakukan Ibu semena-mena. Bahkan jenis ketiga dari KDRT berupa penelantaran karena tidak memberi nafkah yang cukup untuk Ibu dan anak Ibu, juga terjadi.

Karena Ibu kelihatannya masih ingin kembali ke rumah, Ibu dapat menghubungi P2TP2A di wilayah Ibu untuk memberi Surat Peringatan (Somasi) kepada suami Ibu agar dia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan selama ini salah, bahkan adalah sebuah kejahatan (kriminal). Surat ini juga akan memuat pasal-pasal yang dilanggar dan peringatan agar tidak mengulang perbuatan tersebut dan secepatnya memperbaiki hubungan dengan Ibu.

Kami juga menyarankan agar apabila Ibu telah kembali, agar segera mengurus akte sipil pernikahan Ibu, supaya perkawinan Ibu tercatat, posisi Ibu sebagai isteri jelas, dan hak-hak Ibu dapat terpenuhi secara hukum. Ibu juga sebaiknya mencari atau melakukan pekerjaan yang dapat mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap suami.

Kami akan berusaha memonitor perkembangan kasus Ibu. Bila nantinya suami Ibu mulai lagi melakukan kekerasan, segera hubungi kami melalui saluran khusus di HP seperti tertera di bawah ini (lihat kotak ungu di bawah).  Semoga semua bisa lebih baik..(DL).

Foto Februari..14

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: