Catatan Dewi Hairani sebagai Peserta “Basic Leadership Development Course – “YOUTH VOICE IN EDUCATION” Yangon, Myanmar 2-7 September 2013

Foto bersama peserta BLDC 2013

Foto bersama peserta BLDC 2013

Menjadi salah seorang peserta BLDC 2013, yaitu Kursus Kepemimpinan dasar yang diselenggarakan oleh ASPBAE (Lembaga advokasi pendidikan dasar dan seumur hidup di Asia & Pasifik Selatan) adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Pelatihan ini berlangsung selama 6 hari di Yangon,  Myanmar,  dari tanggal 2-7 September 2013.

Fokus ke orang muda.

Saya berkesempatan bertemu, berbagi dan belajar bersama dengan 27 peserta (14 perempuan, 13 laki-laki) dari 14 negara di Asia dan Pasifik Selatan. Mereka semua berusia rata-rata di bawah 30 tahun, hanya beberapa orang yang di atas 30 tahun. Tetapi usia tertua adalah 35 tahun.

Ini karena focus training adalah pemuda/i, dengan thema pelatihan ini adalah “Suara Pemuda dalam Pendidikan”.  Direktur Kursus untuk tahun ini adalah para Executive Counsil ASPBAE, yaitu: Dina Lumbantobing (Indonesia) & Dominic D’Souza (India); serta 3 fasilitator: Anita Borkar (ASPBAE India), Thea Soreano (ASBAE Filippina), dan Aung Myomin (Equality – Myanmar). Ditambah dengan 2 pembicara, yaitu: Heribert Hinzen (DVV Internasional – Laos) dan Namrata (PRIA – India). Pelatihan ini juga sekaligus menjadi arena peluncuran 50 tahun ASPBAE

Kesan yang tak terlupakan.

Diskusi Kelompok

Diskusi Kelompok

Bagiku, Kelompok belajar C. Kami dibagi ke 5 kelompok belajar, di mana kami dapat secara bebas berdiskusi, bercakap-cakap untuk memperluas pemahaman kami mengenai Pendidikan. Setiap kelompok didampingi oleh satu fasilitator/trainer. Kelompok saya terdiri dari 5 orang, yaitu 3 perempuan: saya/Dewi dari Indonesia, Kalpana dari  Nepal, Erka dari  Mongolia ; dan 2 laki-laki: Ryan dari Filippina, Mongkrat dari Kamboja. Pendamping kami adalah  Dominic D’Souza.

Setiap hari kami memanfaatkan kelompok ini untuk mendalami semua yang kami peroleh di ruang belajar, juga untuk lebih mempererat perkawanan kami. Perbedaan latar belakang dari 5 negara membuat kami semakin mengerti betapa pentingnya konteks budaya dalam mengadvokasi pendidikan. Kami juga diikat oleh kesamaan pengalaman dan umur kami, yang membuat semakin bersemangat dalam belajar maupun menikmati hidup sebagai orang muda. Tidak satu haripun kami lewati tanpa tertawa, menyusuri kota Yangon, ambil foto-foto dan…tentu saja belajar.

Site Visit, Rumah Aung San Suu Kyi

Singgah sebentar di depan rumah Aung San Suu Kyi, ketika kunjungan lapang ke organisasi setempat.

Singgah sebentar di depan rumah Aung San Suu Kyi,
ketika kunjungan lapang ke organisasi setempat.

 

Metoda menarik dan kualitas pendidikan

Training ternyata tidaklah sekedar belajar dengan mendengar ceramah atau uraian mengenai issue-issue pendidikan maupun pembelajaran seumur hidup (life long learning), tetapi kami juga belajar melalui metoda-metoda pendidikan popular. Dengan cara ini, kami lebih mudah memahami dan sadar akan berbagai hal yang masih perlu diadvokasi, dikerjakan di lapangan, dan diterapkan dalam hidup.

Banyak sekali metode pembelajaran yang diberikan kepada kami, antara lain : permainan, pemutaran film pendek, Kunjungan Lapang, penggunaan media internet untuk menunjang komunikasi, dsb.

Kami juga mendiskusi seperti apakah kualitas pendidikan yang dibutuhkan oleh orang-orang muda di Asia Pasifik. Inilah rangkuman hasil dari kami semua:

  • Pendidikan harus murah dan berkualitas  khususnya untuk kelompok marginal
  • Pendidikan seharusnya bisa membangun kesadaran berpartisipasi
  • Adanya kompetensi budaya bagi suku Maori di Selandia Baru  atau suku-suku asli di Asia Pasifik.
  • Pendidikan anak usia dini memakai bahasa ibu
  • Mengembangkan pemikiran kritis
  • Mampu membangun kesadaran sosial, politik termasuk dalam pembuatan anggaran dan keaksaraan
  • Pendidikan harus up to date termasuk media belajar
  • Mengembangkan guru sebagai agen perubahan
  • Mementingkan Pelatihan kejuruan
  • Pendidikan harus bisa membantu untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi
  • Pendidikan kewarganegaraan dan menjadi warga negara yang aktif

Manfaat & tantangan.

Bagi saya, pendidikan ini membantu saya mengembangkan pengetahuan kepemimpinan yang ada dalam diri saya, membantu melihat bagaimana kondisi lingkungan kerja saya secara nyata, serta bagaimana membangun kelompok di akar rumput. Terutama dalam melakukan tugas utama saya sebagai seorang konselor. Saya diajarkan untuk melihat suatu masalah melalui banyak sudut, bertindak dengan pemikiran cermat dan terarah serta membangun pola komunikasi yang baik dengan orang lain.

Namun dari begitu banyak informasi yang saya terima, saya masih perlu mendalami kembali bagaimana melakukan advokasi kebijakan bagi pendidikan ditingkat pemerintahan, dan menjalin komunikasi dengan jaringan untuk issue yang sama. (DH/DL)

Explore posts in the same categories: Info Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: