PILKADA MILIK SIAPA DAN UNTUK SIAPA ??

Pemilihan Kepala Daerah atau yang biasa disingkat dengan Pilkada merupakan salah satu bentuk proses untuk menuju negara demokrasi yang dilaksanakan di tingkat Kabupaten. Tidak terkecuali kabupaten Dairi juga mendapatkan moment ini setiap 5 tahun sekali. Rencananya Pilkada Dairi akan dilaksanakan pada 10 Oktober 2013 yang dalam tahapan Pilkada ini telah dilaksanakan pendaftaran calon bupati dan wakil bupati, verifikasi dan penetapan nomor urut calon serta penyampaian visi dan misi.

Dalam beberapa agenda tersebut misalnya, penetapan nomor urut dan penyampaian visi-misi (wisma balai karina dan kantor DPRD) yang dilaksanakan KPU sebagai pihak penyelenggara, dilakukan di dalam ruangan dan seperti bersifat tertutup. Karena yang diizinkan untuk masuk hanya pihak para calon bupati serta penyelenggara pemilu (KPU, Panwaslu, dll). Lalu dimanakah peranan LSM/NGO sebagai pihak yang independent dan masyarakat umum dalam mengawasi jalannya Pilkada??

Di manakah ruang masyarakat untuk belajar bersikap demokratis ketika dalam pelaksanaan “agenda” demokrasi hanya “diperuntukkan” bagi orang-orang tertentu? Apakah yang memiliki Pilkada hanya para calon bupati, wakil bupati serta penyelenggara Pemilu, sehingga hanya beliau-beliau yang diijinkan untuk melihat proses jalannya tahapan Pilkada secara langsung?

Lalu, bagaimana pendapat kita dengan spanduk di bawah ini?? Sepertinya perjalanan menuju demokrasi yang sesungguhnya masih panjang…(dipertanyakan oleh Feminist Muda yang bekerja di Pakpak Bharat – RA)

 

clip_image002

 

Mata desa

Di desa ini…
ku akan terbiasa melihat anakanak  pelajar yang berjalan kaki hingga beberapa kilometer jauhnya

untuk sampai kesekolahnya…
beberapa diantaranya menenteng sepatu,
ntah karena agar lebih enak berjalan atau karena menjaga sepatunya agar tidak cepat rusak…

di desa ini,
kau akan terbiasa melihat para ibu pagi
pagi sudah menjunjung air di atas kepalanya,

atau mencangkul di ladang…

di desa ini…
ku akan terhenyak dan terbiasa melihat bapakbapak  memenuhi setiap warung kopi di pagi hari

sambil merokok dan baca koran…

di desa ini…
pandangan mu akan lebih luas
,,
kanan kiri adalah bukit dan persawahan…
Memandang alam dengan ketelanjangannya

Menikmatinya,,
sambil ku termenung…
budaya…
Bukankah berasal dari kebiasaan
kebiasaan yang dilakukan secara terusmenerus…
Artinya, kita dapat mengubah kebiasaan, begitu pula dengan budaya…
Dan tentu saja
, merubah budaya yang destruktif (tidak membangun)… (RA)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: