23 Tahun PESADA Dengan ketulusan dan kesederhanaan, PESADA ‘komit’ dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan anak

Simbol PESADA di usia 23 tahun

Simbol PESADA di usia 23 tahun

PESADA, sebagai bagian dari komunitas NGO di Indonesia, bulan ini berusia 23 tahun. Usia 23 tahun bisa dilalui, karena PESADA senantiasa terus belajar untuk menjadi lembaga yang professional, adil, transparan dan akuntabel sebagai organisasi yang bekerja untuk penguatan perempuan dan anak. Sebagaimana digambarkan oleh simbol di atas yang digunakan sejak 2013, PESADA bergandengan tangan dan bersatu dengan seluruh perempuan dan pendukung penguatan  perempuan maupun kelompok marjinal untuk mewujudkan visinya.

Oleh karena itu, di bulan ulang tahunnya, PESADA menggunakan kesempatan ini untuk membangun solidaritas perempuan dalam mendukung kepemimpinan perempuan. PESADA melaksanakan refleksi yang bertujuan untuk membuat PESADA semakin transparan dan akuntabel, dan semakin komit dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan anak.

Ulang tahun PESADA yang dirayakan dibulan Oktober, beserta dengan rangkaian kegiatan-kegiatan yang salah satunya adalah perayaan Hari Perempuan Pedesaan yang sama-sama bertepatan dibulan Oktober ini menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu  bagi sebagian orang khususnya staf PESADA sendiri.

Refleksi Internal

Refleksi dilaksanakan oleh para personil PESADA bersama perwakilan Pengurus, Pengawas, Anggota Perkumpulan dan kelompok perempuan dampingannya pada tanggal 29 Oktober di PUSDIPRA. Seluruh peserta berjumlah 105 orang (96 perempuan dan 9 laki-laki) dan bersama merefleksikan pengalaman hidup PESADA, dengan mencoba melihat kembali seperti apakah pengalaman seluruh peserta di usia 23 tahun.

Sharing pengalaman ini membuahkan berbagai pengalaman beragam tapi searah, yang kemudian ternyata dialami oleh PESADA juga. Contoh pengalaman itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Pengalaman peserta

Pengalaman PESADA

WISUDA (tamat sekolah)

  • Tahun 2013 untuk pertama kali memperoleh Serifikat dari KEMNKUMHAM sebagai Organisasi Bantuan Hukum Golongan C
  • Tahun 2013 untuk pertama kali memperoleh dana untuk Pengarus Utamaan Gender bidang pendidikan dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Kementerian P & K. PESADA satu-satunya NGO/ORNOP di tahun 2013 dari 40 lembaga penerima dana  (lainnya adalah 7 Pokja PUG Kabupaten dan 32 PKBM).
  • Memperoleh kepercayaan dari para mitra sekitar 20 lembaga dana dan jaringan.

Menolak untuk menikah

  • Mampu menolak dana & kerjasama yang tidak sesuai dengan prinsip PESADA
  • Memutuskan hubungan dengan para pihak yang memfitnah PESADA.

Menikah

  • PESADA membangun komitmen untuk terus melakukan upaya-upaya penguatan perempuan dan kelompok marjinal.
  • PESADA menandatangani kontrak kerjasama dengan para pihak yang mendukung penguatan perempuan dan kelompok marjinal

Mempunyai anak

  • PESADA berhasil menumbuhkan kelompok perempuan dan jaringan untuk penguatan perempuan, pengembangan kapasitas dan gerakan perempuan

Mulai bekerja/berkarir & menghidupi diri sendiri

  • PESADA mulai mampu secara swadaya bertahap membiayai kegiatan dan biaya rutin lembaga

Bisa membantu keluarga

  • PESADA mampu membagi sumberdaya untuk membantu gerakan perempuan

Mandiri

  • PESADA secara independen menentukan arah dan strateginya tanpa harus menggantungkan diri kepada para mitra pendukung sumberdaya.

Sekolah

  • PESADA terus belajar melalui masyarakat, rapat, diskusi, sampai seumur hidup.

Bingung

  • Para staff berfikir akan kemana Pesada ke depannya! Strategi apa yang harus dilakukan Pesada

Bekerja

  • Pelayanan dari Pesada itu sendiri kepada masyarakat

Di akhir refleksi, peserta secara khusus mengeluarkan perasaan sedih, kemarahan yang terkontrol dan berbagai bentuk penyelewengan yang membuat energy seluruh internal PESADA. Akan tetapi PESADA tetap konsisten dijalannya, tetap bekerja sesuai missi.

Peserta juga mempertanyakan bentuk hubungan yang dapat mengawal terwakilinya kepentingan perempuan serta segenap aspirasi perempuan melalui para perempuan yang duduk di legislatif dan di berbagai posisi pengambil keputusan. Dengan seluruh hasil refleksi ini, acara ditutup untuk kemudian dilanjutkan dengan malam solidaritas perempuan serta Diskusi di hari berikutnya.

Malam Budaya & Solidaritas Perempuan.

Sementara peserta refleksi internal berdiskusi, para aktivis perempuan SUMUT (GEMMA Langkat, HAPSARI Sergai, KIPPAS Asahan, Forum jurnalis perempuan) beserta team DAAI TV juga telah hadir dan melakukan kunjungan lapang untuk mengenali kegiatan-kegiatan PESADA khsusunya mewawancara anggota CU, maupun mengenali daerah Sidikalang dan sekitarnya.

Para aktivis dan jurnalis kemudian bergabung dengan seluruh peserta refleksi untuk persiapan Malam Budaya. Seluruh peserta dibagi menjadi 5 kelompok acak dan masing-masing diminta untuk menampilkan lagu dan tarian yang telah dipilih panitia. Lagu-lagu tersebut berasal dari suku Pakpak, Karo, Batak Toba, Melayu dan TAPTENG.

Semua peserta sangat bersemangat berlatih dan siap dengan kostum yang sesuai, hingga hampir lupa makan malam. Acara kemudian dimulai dengan meriah, seru, lucu; ditingkahi komentar-komentar yang menunjukkan keakraban semua peserta. Tidak terlihat lagi siapa aktivis, siapa dari kelompok pedesaan, maupun jurnalis. Semua berbaur dengan gembira, menari dan menyanyi bersama.

Acara ini berakhir pada jam 12 malam, dengan diselingi tari bersama (poco-poco, Gemu Famire dan Karo); serta snack malam berupa jagung rebus dan minuman bandrek panas. Kelompok yang menampilkan tari dan lagu Karo (Biring Manggisku) mendapat hadiah sebagai kelompok terfavorit. Hadiahnya? Sepuluh batang coklat, yang kemudian dibagi juga ke seluruh peserta. Sedikit tapi semua turut merasakan, sebagai sebuah simbol kecil tapi kuat, dari solidaritas dan kesetaraan.

Diskusi Partisipasi & Representasi Politik Perempuan

Di hari kedua, peserta semakin mengalir dengan membawa buah tangan berupa makanan, seperti: taart ULTAH, bika, kue-kue dan ‘lampet’/lepat, buah-buahan (pisang, jeruk, jagung, talas, dll.), sayuran (terong, tomat, petai, jengkol), dan makanan matang (ikan arsik); bahkan hasil kerajinan seperti ulos Batak yang menggunakan pewarna alam dari kelompok penenun di Samosir. Acara pagi dimulai dengan perkenalan umum agar seluruh peserta mengetahui siapa saja sebenarnya yang hadir. Dilanjutkan dengan sekilas Sejarah PESADA, yang dilakukan dengan mengundang peserta yang terlibat dari sejak awal berdirinya PESADA di tahun 1990. Dalam kilas balik ini, peserta menyampaikan kronologi atau rangkaian waktu 23 tahun PESADA dengan sangat hidup, karena berdasarkan pengalaman langsung para peserta dari kurun waktu yang berbeda yang disampaikan langsung dalam acara ini. Kegiatan PESADA yang dimulai dari keprihatinan kepada identitas Pakpak sebagai suku minoritas di zaman Orde Baru, sampai ke Pendidikan Politik dan Penanganan Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Gender.

Acara kedua adalah dialog dengan anggota DPD SUMUT, Prof. Darmayanti Lubis. Diawali dengan penjelasan mengenai fungsi DPD secara tertulis dan fakta-fakta mengenai apa yang dapat dilakukan oleh anggota DPD, sampai kepada tantangan yang dihadapi. Peserta menanggapi hal tersebut dengan menekankan pentingnya memonitor pelaksanaan berbagai kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, program penghapusan kemiskinan maupun pendidikan. Ketiga hal ini (pendidikan, kesehatan dan kemiskinan) menjadi issue kritis yang diharapkan peserta menjadi agenda untuk aspirasi perempuan SUMUT bagi anggota DPD, di samping harapan solidnya keempat anggota DPD SUMUT di tingkat Nasional. Acara ini kemudian ditutup dengan himbauan agar seluruh point diskusi di atas masuk dalam visi politik Prof. Darmayanti Lubis dalam PEMILU y.a.d.

Pemotongan ‘pelleng’ ULTAH & Makan siang bersama.

Semua rangkaian ULTAH ditutup dengan tiupan lilin ULTAH ke 23 dan pemotongan ‘pelleng’ yaitu nasi kuning khas Pakpak berbentuk tumpeng, yang dilaksanakan oleh perwakilan dari seluruh internal PESADA dan jaringannya. Pelleng dibagikan dalam piring kecil disertai gulai ayam khas Pakpak yang sedap berbumbu. Semua peserta sangat menikmatinya, ditambah dengan nasi kotak yang memang disediakan untuk semua peserta. Peserta kembali ke tempat masing-masing dengan membawa buah tangan yang berasal dari sumbangan para peserta sendiri. Dengan senyum dan optimisme, bahwa perjuangan untuk perempuan akan terus dilakukan dengan semangat kebersamaan.

Selamat ulang tahun PESADA, tetaplah komit dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan anak. DL

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: