Konsultasi

Tanya:

Pelaku (usia 19 tahun) dan korban (usia 14 tahun) kenalan bulan Januari, dan mulai pacaran sejak Februari 2013. Korban tinggal di rumah neneknya yang ada di sebuah desa di Pakpak Bharat. juga tinggal dirumah pamannya di desa Binanga Boang. Pekerjaan pelaku sehari-harinya menjaga kebun. Pelaku dan korban berpacaran tanpa sepengetahuan nenek korban. Selama berpacaran ± 6 bulan,  pelaku dan korban sudah ada 3 kali melakukan hubungan intim. Mereka melakukannya di tempat pelaku menjaga kebun. Hubungan pertama dilakukan dengan membujuk korban dan berjanji akan bertanggung jawab dan untuk membuktikan cinta pelaku kepada korban.

Suatu ketika masyarakat desa tersebut dan kawan-kawan sekolah korban mengetahui kedekatannya dengan pelaku, dan tersebar bahwa pelaku dan korban sudah melakukan hubungan suami istri. Nenek korban langsung menghubungi orang tua korban yang bertempat tinggal di Desa lain untuk memberitahukan keadaan korban.

Keluarga korban dan keluarga pelaku  berunding membicarakan bagaimana masalah korban. Korban masih duduk dibangku sekolah kelas 3 SMP. Sebagai tanggapan, keluarga pelaku mengajukan perdamaian dengan keluarga korban. Mereka menentukan waktu pertemuannya, sekitat jam 2 sore. Pagi-paginya, pelaku menghubungi korban untuk bertemu. Setelah mereka bertemu pelaku membawa korban ke kota lain, ke tempat keluarga pelaku.

Setelah keluarga korban mengetahui hal tersebut, pertemuan perdamaian  tersebut menjadi batal. Dengan penuh kegeraman keluarga korban mengadu ke polisi tentang tindakan pelaku. Selama seminggu korban dibawa kabur oleh pelaku.

Suatu hari keluarga menjebak pelaku dengan iming-iming bahwa situasi sudah aman, sehingga pelaku dan korban pulang ke rumah orang tua pelaku. Mereka tiba sore, dan sekitar jam 19.00 Wib pelaku dibawa ke kantor polisi dan ditahan.

Dari hasil visum, korban tidak  hamil. Tetapi kondisi psikologis korban sangat terganggu dengan kejadian tersebut. Setiap diminta keterangan korban tidak mau menjawab dan hanya senyum-senyum saja.

Korban masih melanjutkan sekolahnya, tetapi sudah pindah sekolah dan tinggal dirumah pamannya di kota yang tidak begitu jauh dari desanya. Proses tindak pidana masih berlanjut. Dan permintaan keluarga korban supaya pelaku dihukum dengan seadil-adilnya. Bagaimana pandangan Ibu mengenai hal ini? Kami khawatir pelaku lolos karena korban tidak mampu memberi keterangan, apalagi dia masih tergolong anak/remaja. Mohon tanggapan Ibu.

Jawab:

Kasus ini memang sebaiknya diproses secara hukum dan pelaku dihukum sesuai pasal yang ada dalam UU Hak Anak, karena korban masih anak (di bawah 18 tahun) dan telah mengakibatkan gangguan secara kejiwaan. Ini terlihat dari cara korban ketika dimintakan keterangan. Korban perlu dikonseling dan bahkan bila dibutuhkan dapat meminta pemeriksaan khusus oleh Psikolog dan hasilnya dapat menjadi keterangan dari Saksi Ahli.

Perkembangan pelajaran juga sebaiknya dimonitor dan kasusnya sedapat mungkin dirahasiakan dari lingkungannya yang baru. Hal ini untuk menjaga kemungkinan korban semakin terganggu karena pertanyaan atau tekanan dari sekitarnya. DL

Foto Februari..14

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: