“Kejahatan Seksual Meroket Naik, Negara Gagal Melaksanakan Tugasnya” Statement Perayaan 16 Hari Aktivisme Aktivis Perempuan Sumatera Utara 25 November 2013

Pengantar.

Pada tanggal 25 November yang lalu, Aktivis perempuan SUMUT beserta para perempuan yang mewakili kelompok-kelompok perempuan dampingan LSM, merayakan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Lapangan Merdeka.

Perayaan ini diikuti 111 peserta, terdiri dari 92 perempuan dan 19 laki-laki. Semuanya berasal dari 21 lembaga sepertiPESADA, YAPIDI, Yakmi, Pelpem GKPS, Rumah Kita, FAMM Medan, Hapsari, Rumah Kita, KPAID, KPI, Forum anak Medan, Gemma, DPD RI, Kipas, PAKKAR, Yoam-PSG, FJPI, STIK-P FKT, Burangir Sidempuan, KSPPM, PSGPA Unimed.

Dalam perayaan tersebut, perempuan mendiskusikan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang difasilitasi oleh Dina Lumbantobing (PESADA). Peserta mencermati data yang semakin meningkat tajam dan mencoba melihat akar masalahnya. Dari diskusi itu perempuan mengkritisi pandangan yang melihat perempuan sebagai obyek seks (alat untuk memuaskan nafsu seks), dan pentingnya pendidikan seks sejak usia dini di keluarga.

Diskusi tentang kekerasan seksual dalam merayakan Hari Anti Kekerasan  terhadap Perempuan di Lapangan Merdeka, 25 November 2013

Diskusi tentang kekerasan seksual dalam merayakan Hari Anti Kekerasan
terhadap Perempuan di Lapangan Merdeka, 25 November 2013

Peserta juga mendiskusikan soal akses perempuan untuk terlibat di dunia politik dan berbagai tantangannya bersama Ibu Prof. Darmayanti Lubis (anggota DPD SUMUT).

Selain itu, kebersamaan dan solidaritas perempuan ditunjukkan dengan makan siang bersama, di mana nasi putih disediakan panitia, sementara lauk dan sayur dibawa masing-masing peserta; sambil saling berbagi dan bertukar. Acara ini sangat meriah dan menyenangkan.

Tarian massal & Statetement Perempuan SUMUT

Sebelum aksi damai ke jalan, peserta juga berlatih menari massal untuk membuat kejutan nantinya di dalam proses demonstrasi. Seluruh peserta bersemangat mempelajari lagu dan tarian yang berasal dari NTT, bernama “Gemu fa mi re”.

Selama kurang lebih satu jam, seluruh peserta demonstrasi di seputar Lapangan Merdeka. Tarian massal disuguhkan dan pada akhir perjalanan, beberapa peserta orasi (pidato) dan secara khusus Pernyataan (Statement) Perempuan SUMUT dibacakan sbb.:

2

Perayaan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan merupakan kampanye yang telah dilakukan di seluruh dunia sejak 1991. Sejak 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan KTP, sampai ke hari Peringatan HIV AIDS 1 Desember; hingga di Hari HAM 10 Desember. Pada 16 hari tersebut, kampanye dilakukan oleh berbagai organisasi maupun perorangan untuk menghimbau dan untuk mendorong berakhirnya segala bentuk KTP terhadap perempuan semua umur.

Salah satu bentuk KTP yang semakin menonjol di tahun 2013 adalah kekerasan seksual, khususnya kepada anak-anak perempuan. Dalam kurun waktu Januari – Juni 2013, WCC Sinceritas-PESADA menerima 14 pengaduan kekerasan seksual, bahkan hanya dalam 3 bulan terakhir bertambah menjadi 22 kasus. Pada kurun waktu yang sama, KPAID mencatat 48 kasus kekerasan seksual. Gejala kekerasan seksual yang menimpa anak perempuan semakin mengkhawatirkan, terjadi di mana saja, dan semakin serius.

Di Dolok Sanggul, sebuah kota yang masih kuat adat Batak Toba, perkosaan dilakukan oleh laki-laki tua yang merupakan paman, kakek maupun tetangga dari para korban dan yang dipercaya oleh orangtua mereka; terhadap beberapa anak perempuan sekaligus. Sementara di Dairi, hal yang sama terjadi bahkan berulang dengan angka yang semakin mengkhawatirkan setiap tahun. Kasus-kasus ini sangat lambat penanganannya di ranah hukum, bahkan beberapa kasus berhenti dengan alasan kekurangan saksi.

Sementara itu data klipping dari 2 koran lokal menunjukkan terjadinya 146 kasus kekerasan seksual (64%), dari total 227 kasus KTP. Kekerasan seksual ini dialami oleh anak perempuan dan perempuan dewasa, hingga berusia tua. Analisis perempuan menyatakan, dari setiap satu korban, terdapat minimal 10 perempuan korban yang tidak terdata di belakangnya.

Oleh karena itu Kelompok Aktivis Perempuan SUMUT yang diprakarsai oleh PESADA SUMUT, PAKKAR, GEMMA, Forum Jurnalis Perempuan SUMUT, KPI SUMUT, Hapsari, KPAID, YAPIDI, KIPAS, PSGPA UNIMED, YAK, JASS SEA/FAMM Indonesia Wil. Sumatra dan seluruh perempuan yang bersatu dalam gerakan ini termasuk Perempuan Feminist Muda yang bergabung di FAMM Indonesia dan JASS Asia Tenggara mengawali 16 Hari Aktivisme di Sumatera Utara dan menyatakan:

Kami semua bersatu dalam ONE DAY ONE VOICE (Satu Hari Satu Suara)

Stop Kekerasan Seksual, Lindungi Perempuan, Lindungi Kehidupan”

Kami menghimbau seluruh masyarakat umum dan perempuan, agar bangkit melawan segala bentuk kekerasan terhadap Perempuan (KTP), khususnya kekerasan seksual, terhadap anak-anak perempuan, terhadap perempuan berkebutuhan khusus ataupun terhadap perempuan yang mengalami penyakit khusus.

Secara khusus terhadap para pengambil keputusan khususnya para wakil rakyat dan Aparat Penegak Hukum (APH) agar lebih peka terhadap masalah khusus yang dihadapi perempuan dan dapat mengeluarkan keputusan-keputusan yang melindungi perempuan serta menimbulkan efek jera kepada para pelaku KTP”.

Medan, 25 November 2013

Kelompok Aktivis Perempuan SUMUT

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: