Konsultasi

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah kota kecil di Kabupaten Dairi. Saya mendengar tiga kisah yang menurutku sangat mengerikan, yang dialami oleh 3 perempuan menikah berusia 30an. Mereka bertiga sangat sedih dan ingin bercerai, tetapi tidak tega karena sudah mempunyai anak. Mereka mula-mula tidak ingin bercerita, tetapi beberapa waktu kemudian akhirnya ketahuan, bahwa katanya mereka ini mengalami kekerasan seksual dari suaminya.

Saya sungguh terkejut. Mungkinkah itu? Masak suami melakukannya kepada isterinya? Laginya, itu sebenarnya merupakan tugas isteri kan? Rasanya tidak masuk akal, tapi memang saya lihat, mereka kelihatan sangat tertekan. Apa pendapat Ibu? Bagaimana kami sebagai ibu-ibu menanggapi masalah seperti ini?

Jawab:

Ibu, kami juga sudah mendengar kisah ini, dan bahkan ada kasus sejenis yang sedang kami tangani. Kekerasan seksual selalu mungkin terjadi, meskipun itu di antara suami dan isteri. Apabila seorang perempuan merasa dipaksa, baik karena sedang tidak ingin, sakit, hamil, nifas; ataupun karena cara berhubungan yang tidak nyaman atau tidak disetujui perempuan maupun isteri, ini adalah kekerasan seksual.

Oleh karena itu, pemaksaan ini bisa disebut perkosaan; bahkan untuk perkosaan ada istilah asing yang disebut ‘marital rape’ atau perkosaan dalam perkawinan. Istilah ini tidak kita kenal tadinya, karena ada nilai di masyarakat bahwa hubungan sex suami isteri adalah kewajiban, dan terutama pihak isteri harus selalu siap. Seiring berkembangnya pengetahuan dan hak-hak perempuan yang setara dengan laki-laki, muncul kesadaran bahwa kewajiban itu harus dilandasi persetujuan kedua belah pihak, dan bahwa suami dan isteri setara dalam hal ini. Artinya saling melayani, saling tanggap kepada kebutuhan dan keinginan pasangannya. Isteri boleh meminta berhubungan dengan suami, dan sebaliknya.

Kami juga menangani kasus di mana suami yang menghina isteri yang meminta hubungan suami-isteri lebih dahulu. Dituduh sebagai ‘hyper sex’ atau mempunyai hasrat berhubungan sex yang berlebihan. Bahkan dicurigai, sehingga isteri mengalami pemukulan selain hinaan dan tuduhan. Hal ini salah, dan menjadi sebuah kejahatan. Ingatlah, setiap tubuh kita mempunyai hasrat seksual, dan adalah wajar bila isteri menginginkannya. Bukan hanya suami yang menuntut. Selain itu, tidak boleh ada unsur paksaan. Setiap paksaan adalah kekerasan bahkan perkosaan.

Bila Ibu mendengar kasus seperti ini, Ibu bisa membantu memberi penjelasan, atau membawanya ke WCC Sinceritas agar dapat dibantu. Salam solidaritas (DL)

Foto Februari..14

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: