Konsultasi

Tanya:

Saya seorang ibu dari dua orang anak laki-laki. Umur saya 44 tahun dan tinggal di kota kecamatan. Saya juga seorang PNS. Saya menikah tahun 1994 di Gereja di kota ini juga. Setelah menikah saya mengontrak rumah dan kemudian di tahun 1999 suami saya meninggal dunia. Setelah itu, saya mengurus dan membesarkan kedua anak saya seorang diri.

Saat ini saya sudah memiliki ladang dan rumah dari jerih payah saya sendiri. Pada bulan Februari 2012, saya berkenalan dengan seorang laki-laki dari suku kami juga. Dia duda, memiliki 3 orang anak, dan mereka semua yang tinggal di kota lain.

Saya berencana akan menikah dengan laki-laki tsb, akan tetapi masyarakat sekitar rumah saya melarang, atau bahkan menyebut saya perempuan “gatal” karena ingin menikah lagi.

Hal ini sangat mempengaruhi anak saya yang bungsu dan akhirnya dia juga melarang saya untuk menikah kembali; padahal sebelumnya sudah setuju. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab:

Ibu, sebenarnya Ibu berhak untuk menikah lagi. Biasanya di adat Batak, hal ini cukup disampaikan kepada keluarga almarhum suami, selain kepada keluarga ibu sendiri. Keputusan menikah adalah hak pribadi Ibu, tapi memang perlu mempertimbangkan pandangan keluarga, khususnya anak Ibu.

Pandangan masyarakat memang sangat berbeda kepada perempuan janda dibanding kepada laki-laki duda. Ini yang disebut, stigma; yaitu semacap cap negatif. Ini didasarkan pandangan bahwa ‘perempuan baik haruslah tetap sendiri membesarkan anak-anaknya, smeentara laki-laki membutuhkan perempuan untuk mengurus diri, anak dan rumahnya”.

Untuk itu, buatlah pendekatan kepada keluarga; bicaralah dengan anak bungsu Ibu. Jelaskan dasar pikiran Ibu, dan sambil melakukan itu; pastikan batasan-batasan yang perlu dilakukan dengan calon suami Ibu. Ini menjaga banyak hal, antara lain etika seorang Bapak Tiri kepada anakanaknya dan anak tirinya, mengenai harta bawaan, dan juga sampai kepada panggilan anak-anak Ibu kepada suami baru; dan sebaliknya.

Juga dibutuhkan waktu untuk saling mengenal di antara anak-anak Ibu dengan anak-anaknya, karena situasi sudah berubah. Perkawinan Ibu bukan lagi antara 2 orang, tapi antara 2 keluarga kecil yang disorot banyak orang. Di atas itu semua, hendaknya Ibu melakukan ini dengan keyakinan penuh atas nilai-nilai yang Ibu yakini.

Kami mengharap persiapan ini berjalan mulus dan Ibu serta keluarga cukup kuat menghadapi pandangan negatif para tetangga. Biasanya ketika kita tetap positip, seiring waktu; pandangan akan berubah. (DL)

Foto Februari..14

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: