Pemulihan Trauma Pengungsi Korban Letusan Sinabung

Hampir semua pembaca sudah mendengar dan menonton berbagai berita mengeai meletusnya Gunung Sinabung, yang terletak di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter, yang merupakan puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini pernah meletus di sekitar bulan Agustus s/d September 2010, dan itu adalah yang pertama sejak tahun 1600.

4

Pada bulan November 2013, kembali gunung Sinabung tsb meletus, dan sejak itu, status gunung ini dinaikkan menjadi AWAS. Penduduk diungsikan ke berbagai lokasi di wilayah Kabupaten Karo, Langkat dan Deli Serdang. Hingga saat ini masih banyak pengungsi yang tinggal di pengungsian. Baik karena kekhawatiran akan letusan, juga karena belum ada kepastian mengenai relokasi.
Pada tanggal 20 February yang lalu, team PESADA berkunjung ke YAPIDI Kabanjahe, yaitu LSM Perempuan yang bekerja untuk penguatan perempuan dan rakyat Karo, Deli Serdang dan Simalungun. Adapun tujuan dari kunjungan ini adalah:

1. Berkontribusi memberi trauma healing kepada kelompok pengungsi.
2. Belajar bersama YAPIDI mengenai penangan pengungsi, khususnya kelompok perempuan.

 

Persiapan di YAPIDI Kabanjahe:

5

Kunjungan ini diawali dengan diksusi pendek mengenai penanganan kredit anggota CU, khususnya paska letusan. Berdasarkan pandangan bersama, aalah satu yang perlu dianalisis di lapangan adalah penangan kredit yang buruk dan macet, apakah harus dijadwal ulang, diberi masa tenggang (grace period), di konversikan dengan jumlah tabungan , ataukah pemutihan karena merupakan bencana yang di luar kontrol manusia dan sulit diatasi. Dalam hal ini satu point penting yang disampaikan oleh Koordinator Kabanjahe adalah, pemutihan tidak pernah boleh dilakukan, karena tidak mendidik.

Analisis kebutuhan pengungsi didiskusikan dengan menyegarkan ulang tingkatan kebutuhan (mis: teori kuno Abraham Maslow – kebutuhan dasar makan minum dan sex, shelter/tempat bernaung, sampai ke aktualisasi diri). Berdasarkan ini dan pengalaman menangani korban tsunami dan gempa bumi di Aceh dan Nias, team mencatat kebutuhan prioritas pengungsi dan memfokuskan kebutuhan khusus yang secara budaya kurang terkspressikan (mis: hubungan sex antara suami/isteri), kebutuhan berkumpul dengan keluarga inti di tengah suasa pengungsian, kebersihan, kebutuhan khusus perempuan (masa haid, masa hamil, paska melahirkan, sakit reproduksi), lansia, dll.
Kondisi di posko pengungsi memang menunjukkan kebersihan, udara segar, ketersediaan air bersih, toilet dll yang tidak mencukupi. Pengorganisasian pekerjaan harian dan peran-peran setiap orang kurang terperhatikan. Selain itu, trauma healing kebanyakan dilakukan untuk anak-anak, sehingga orangtua/dewasa agak terabaikan.

Hal yang baik adalah, telah ada posko yang memperhatikan pentingnya ruang untuk kebutuhan para suami isteri, Juga selalu ada Kebaktian umum. Tetapi belum ada ruang khusus untuk berkumpul bagi keluarg-keluarga. Juga terdapat kesan bahwa pengungsi merasa tertekan karena informasi tidak jelas, penuh ketidak pastian mengenai waktu, kapan akan kembali ke rumah, dsb.
Berdasarkan semua diskusi di atas, team memutuskan untuk mengunjungi POSKO yang tidak terlalu jauh dan merupakan lokasi kelompok YAPIDI yaitu di Katepul dan Kodim dengan membawa sumbangan sederhana; karena sumbangan-sumbangan LSM sudah diatur untuk digunakan secara rutin dalam kunjungan-kunjungan YAPIDI untuk logistik di dapur.

Kunjungan ke Posko Katepul
Dalam kunjungan ini, team memperoleh informasi seputar pengaturan di posko, bahwa pengungsi juga memperoleh uang kalau bekerja (istilahnya ‘cash for work’). Kegiatan yang dilakukan secara rutin selama di posko adalah gotong royong di pagi hari, jalan – jalan/keliling, senam pagi, menonton TV. Sebagian juga pergi bekerja di ladang orang lain. Anak-anak bersekolah seperti biasa. Mereka masuk siang hari, terpisah dari anak-anak setempat; dan belajar di sekolah setempat, yang diajar oleh guru mereka sendiri yang juga sama-sama mengungsi.Saat makan siang, team bergabung karena didesak. Observasi team menunjukkan makanan cukup sehat dan enak.
Selesai makan siang, pengungsi dibagi menjadi 3 kelompok kecil (sekitar 8 – 15 orang) sbb.:

  • Kelompok 1 (ibu-ibu), difasilitasi Sriati & Ika
  • Kelompok 2 (bapak-bapak), difasilitasi Lida & Kalvin.
  • Kelompok 3 (ibu-ibu) difasilitasi Dina dan Rina.
Trauma healing kelompok (mereka kelihatan muram, gelisah..)

Trauma healing kelompok (mereka kelihatan muram, gelisah..)

 

Adapun hasil dari pemulihan trauma berkelompok ini adalah berbagai cerita mengenai perasaan dan pikiran para pengungsi, antara lain:

  • Perasaan gelisah, mudah terkejut, tidak bisa tidur, merasa tidak aman lagi dan tidak bisa lagi bekerja di ladang,
  • Kecewa karena tidak ada perhatian dari Pemkab,kurang selera untuk makan, tidak ada aktivitas/tidak keluar keringat.
  • Terjadi perubahan menjadi mudah marah/emosi, hal ini karena banyak pikiran/masalah yaitu tidak bisa bertani lagi (mungkin sampai 2 tahun)
  • Tidak bisa membayar hutang di CU, sementara rumah sudah rusak; juga dengan ternak, dan ladang hancur; bahkan listrik sudah mati.
  • Ada keinginan agar punya waktu dan tempat untuk bersama dengan keluarga terutama suami/istri. Agar ada ‘kamar bahagia’ untuk tempat berduaan bagi pasangan suami/istri.
  • Cara untuk mengatasi perasaan sensitif dan bosan bagi bapak – bapak : merokok, minum kopi/tuak, menonton TV. Para Bapak perlu sekitar Rp. 25.000/hari untuk ini. Sementara para ibu menonton TV dan ‘nyirih/bersirih.

Di akhir pembicaraan berkelompok, pengungsi menyampaikan bahwa sebenarnya masih ada keyakinan bahwa semua akan kembali normal, namun belum tahu kapan. Selain itu, ada harapan agar pemerintah/lembaga Yapidi bisa memfasilitasi agar mereka bisa diberikan lahan untuk ditanami. Juga harapan agar hutang di CU bisa diputihkan atau hanya bayar bunga saja.

Posko pengungsian Kodim

Di posko ini keluarga bisa berkumpul, dan  terlihat lebih bersemangat  (banyak yang pergi bekerja/aron)

Di posko ini keluarga bisa berkumpul, dan terlihat lebih bersemangat
(banyak yang pergi bekerja/aron)

 

Di posko ini, team berdiskusi dengan kelompok ibu – ibu, tidak kelompok kecil karena hanya sekitar 30an orang yang sedang di POSKO. Team menyaksikan suasana yang sangat berbeda, di mana aktivitas cukup banyak, perempuan menganyam tikar, memasak kue – kue, membuat souvenir gantungan kunci; dan semuanya dijual.

Suasana di pengungsian dan meja tempat jualan hasil kerja pengungsi. Jualan cukup baik, team membeli pegangan kunci dan snack.

Suasana di pengungsian dan meja tempat jualan hasil kerja pengungsi.
Jualan cukup baik, team membeli pegangan kunci dan snack.

 

Secara umum, masalah yang ada hampir sama dengan di posko Ketapul yaitu rasa tidak aman dan ketidak-pastian mengenai bagaimana rencana ke depan, mengenai perekonomian keluarga, pembayaran hutang di CU dan tidak tahu kapan bisa pulang.
Kekesalan yang paling besar adalah tidak ada yang memberikan informasi mengenai kapan bisa pulang. Di dinding luar posko, team melihat ada nomor yang bisa dihubungi untuk informasi mengenai erupsi Sinabung, tetapi ternyata nomor ini ditempel ketika SBY berkunjung, dan tidak bisa digunakan.

Evaluasi kunjungan di Kantor YAPIDI
Berdasarkan pengalaman di dua posko tersebut, team mengakui bahwa tidak ada pengetahuan mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mengolah lahan/ladang kembali dalam situasi seperti sekarang (kearifan lokal). Kemungkinan karena jangka waktu meletus gunung sudah terlalu lama. YAPIDI menyampaikan ada perasaan lega di kalangan pengungsi bahwa ada lembaga yang mau mendengarkan bagaimana perasaan ataupun harapan pengungsi. Mereka merasa terbantu untuk memfokuskan pikiran dan tersampaikan keinginan beberapa orang perempuan agar ada aktivitas menganyam dan kegiatan lainnya. Pengungsi juga mengharap agar pertemuan sejenis ini tidak hanya untuk anggota CU, agar bisa lebih banyak diakses pengungsi lain.

Sementara itu sebagai tindak lanjut, team memikirkan untuk beberapa hal sbb.:

  • Pengorganisasan di posko perlu diperbaiki agar semua bisa bergerak, beraktivitas, dll.
  • Mencari informasi mengenai ternak apa yang bisa untuk kondisi lahan seperti sekarang
  • Bagaimana mengolah lahan pasca erupsi (konsultasi ke ahli pertanian : Jogya/ahli paska erupsi Merapi)
  • Berdelegasi ke kantor bupati/DPRD mengenai relokasi dan masalah lainnya.
  • Menggunakan kesempatan untuk memperbanyak anggota CU khusus desa Katepul. Sementara untuk ketrampilan di posko mungkin bisa diambil dari dana di CU
  • Mengupayakan “Kamar bahagia” dan diatur/jadwal secara rahasia
  • Pengembalian pinjaman di CU belum menjadi prioritas bagi pengungsi
  • Pentingnya pendidikan/mitigasi bencana

Medan, 20 Februari 2014 (DL)

 

Iklan
Explore posts in the same categories: Info Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: