Konsultasi

Tanya:
Korban adalah seorang anak berumur 13 tahun yang dicabuli oleh tetangganya, seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun. Perbuatan pelaku terungkap setelah bibi korban melihat korban dan pelaku keluar dari area sumur pada jam 8 malam. Awalnya korban tidak mau menceritakan apa yang dialami, baru keesokan harinya korban mau menceritakannya. Itupun setelah korban dibujuk dan diberi uang 15 ribu oleh bibinya. Mengetahui hal tersebut kakek korban merasa tidak senang dan mendatangi rumah pelaku menanyakan kebenarannya, dan setelah didesak pelaku mengakui dan meminta maaf. Oleh Kepling dan atas permintaan kakek korban, akhirnya pelaku dan keluarga diusir. Bagaimana pendapat Sinceritas mengenai hal seperti ini? Apakah pengusiran cukup untuk merubah perilaku pelaku? Apakah ini cukup sebagai hukuman? Saya khawatir peristiwa yang sama bisa terulang kembali di tempat lain.

Jawab:
Kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak terus meningkat. Anak korban kekerasan sebenarnya telah dilindungi Negara berdasarkan UU Perlindungan anak No. 23 thn 2002. Untuk kasus ini orang tua korban seharusnya langsung melapor ke polisi dan bukan langsung mengambil keputusan meminta agar Kepling mengusir pelaku. Bila kasus tersebut tidak dilaporkan maka dikhawatirkan pelaku akan mengulangi perbuatannya kepada perempuan yang lain khususnya anak-anak perempuan.
Memang proses kasus ini akan berjalan lambat apalagi bila korban tidak mau berterus terang akan kejadian yang dialaminya, ditambah lagi dengan minimnya saksi-saksi yang mengetahui dan melihat perbuatan pelaku tersebut. Namun walaupun begitu, karena korban masih dibawah umur ditambah hasil visum dan pengakuan pelaku saja, sudah dapat menjerat pelaku. Dalam hal ini pelaku dapat dijerat dengan Psl 81 UU Perlindungan Anak yaitu : “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul” diancam dengan hukuman penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
Kami juga menganjurkan agar korban dapat pulih dari pengalamannya, dan tidak disalahkan atau bahkan menjadi ejekan di sekitarnya. Untuk itu Kepling juga perlu memberi penjelasan dan pendidikan kepada warganya agar kasus yang sama tidak terulang, dan anak-anak perempuan khususnya korban dapat dilindungi dan dipulihkan.

12

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: