Konsultasi

Tanya:

Saya adalah seorang isteri, berumur 37 tahun. Suamiku berumur 32 tahun. Kami menikah tahun 2005 dan sekarang kami mempunyai 2 anak perempuan, masing-masing berumur 8 dan 5 tahun. Ketika menikah, aku baru lulus Sarjana, sedangkan dia adalah alat Negara yang memang sudah bertugas. Saya tidak diizinkan suami bekerja, sehingga sampai sekarang, saya adalah ibu rumah tangga biasa.
Rumah tangga kami pada umumnya biasa-biasa saja. Terkadang ada pertengkaran, tapi tidak terlalu serius dan bisa saya katakan rumah tangga kami aman-aman saja.
Hingga beberapa waktu lalu, saya dikejutkan oleh adanya surat panggilan sidang perceraian dari Pengadilan Agama. Saya baru tahu kalau ternyata suami menggugat cerai saya. Gugatan ini diketahui dan disetujui oleh atasannya. Untuk beberapa waktu, aku sangat terkejut, dan tidak sanggup berbuat apa-apa.
Tetapi sekarang, aku ingin melawan. Aku berniat untuk mempertanyakan mengapa dia menceraikanku..mengapa atasannya tidak menanyakanku..apa salahku??? Apalagi kami sama-sama mempunya tanggung-jawab, 3 anak.. Memang saya kemudian mendengar bahwa dia ada hubungan dengan perempuan lain. Tapi saya tidak perduli. Dia adalah suamiku, dan dia serta atasannya seharusnya berbicara dulu dengan saya… Mohon pandangan Ibu, saya bingung dan marah.

Jawab:
Ibu, kami sangat mendukung reaksi Ibu atas gugatan tersebut. Ada beberapa hal yang memang telah melanggar hak Ibu sebagai isterinya. Masalah pertama adalah larangannya yang tidak mengizinkan Ibu bekerja. Seyogyanya Ibu bisa bekerja, sambil tetap membagi waktu untuk keluarga. Apalagi pendidikan Ibu sangat berguna untuk masyarakat. Selain itu, menceraikan tanpa ada penjelasan, adalah melanggar peraturan Kapolri No. 9/2010 dimana harusnya ada persetujuan dari kedua belah pihak. Demikian pula UU Perkawinan No.1 tahun 1974. Seperti contoh pasal di bawah ini:

Pasal 39
(1) Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak
(2) Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri tidak dapat hidup rukun sebagai suami istri

Apapun alasannya, seharusnya itu disampaikan kepada Ibu. Demikian juga atasannya, seharusnya bertanya kepada Ibu lebih dahulu. Bukan hanya mendengar suami Ibu saja. Bahkan di pengadilanpun, harus ada lagi upaya mediasi, yaitu upaya untuk menengahi sehingga tidak terjadi perceraian.
Ibu bisa menyampaikan semua ini kepada Pengadilan Agama, juga menyampaikan secara langsung atau tertulis kepada atasan suami mengenai pandangan Ibu. Kami bisa mendampingi Ibu untuk menguatkan Ibu menghadapi atasan suami, juga di Pengadilan Agama nanti. (DL)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: