“Pendidikan Mengenai Seksualitas SANGAT PENTING” (Catatan dari Diskusi Hasil Penelitian Kehamilan Tidak Diinginkan di Nias)

Diskusi ini dilaksanakan pada tanggal 28 April 2014 bertempat di Hotel Mega Nasional, dengan dihadiri oleh 14 orang peserta (Pr. 10 orang ; Lk. 4 orang) yang merupakan perwakilan dari FGD (Kelompok Diskusi Terfokus) kelompok Perempuan, kelompok Remaja, dan Narasumber lainnya (Tokoh adat, Pemerintah, Dukun beranak, Bidan desa)
Penelitian tentang Kehamamilan Tidak Diinginkan telah dilaksanakan di 3 Desa di 2 Kabupaten di pulau Nias, yaitu : Desa Umbu Kecamatan Gido dan Desa Tulumbaho Kecamatan Sogae’adu; serta Desa Sisarahili II Kecamatan Mandrehe Barat di Kabupaten Nias Barat. Keseluruhan penelitian dilakukan dalam bulan Januari sampai Februari 2014.

KTD cukup tinggi, aborsi terjadi?
Dari Hasil FGD Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) di 3 kelompok perempuan dan satu kelompok remaja, diperoleh informasi mengenai tingginya KTD untuk perempuan di kisaran umur 35-48 tahun (KTD1). Demikian juga KTD perempuan umur 14-21 tahun; bahkan ditemukan kasus incest atau kehamilan dalam hubungan sedarah.
Menggugurkan kehamilan ternyata juga dilakukan oleh perempuan, baik dilakukan sendiri maupun dengan bantuan dukun beranak. Hal ini dilakukan karena kemiskinan, jumlah anak yang sudah banyak, usia yang sudah tua atau menjelang menopause, gagal KB dan inces.
Hal ini juga dikuatkan oleh hasil wawancara dari tokoh adat dan tokoh agama yang mengatakan bahwa pengguguran kandungan bagi kalangan remaja atau siswa/mahasiswa yang belum menikah, banyak terjadi. Dan itu dilakukan secara rahasia dan sangat sulit terungkap.
Aborsi yang dilakukan oleh perempuan pada umumnya adalah aborsi yang tidak aman dengan menggunakan obat tradisonal atau obat kimia, yang berisiko terhadap janin dan juga nyawa ibu itu sendiri. Beberapa cara yang digunakan diantaranya seperti minum ‘tuak nifaro’, resokhin (obat malaria), abu dapur yang masih panas di gosok di perut, minum air nenas yang tua, dll.

Tidak ada data KTD resmi.
Data Kehamamilan Tidak Diinginkan di Dinas terkait, Dinas Kesehatan, kantor KB-P2A dan Meski sekolah selalu merupakan institusi pertama yang melakukan sanksi kepada anak-anak perempuan yang hamil di luar nikah, tapi ternyata Dinas Pendidikan tidak punya data KTD. Demikian pula dengan Dinas Kesehatan, yang hanya mempunyai informasi mengenai penggunanaan alat kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur (PUS) yang relatif rendah, sehingga mengakibatkan KTD tidak teratasi lagi. Data yang hanya dapat diperoleh melalui internet menunjukkan bahwa di Kabupaten Nias Barat 30 % PUS tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Hal ini bisa terjadi karena bererapa penyebab yaitu :
1. Diskusi untuk menggunakan KB masih minim;
2. Minimnya layanan kesehatan di Kabupaten /Kota di Nias;
3. Dari 5 Kabupaten/Kota yang ada di Pulau Nias, hanya ada 2 Rumah Sakit Umum yaitu di Kabupaten Nias Gunungsitoli dan Nias Selatan;
4. Kabupaten Nias Barat dan Nias Utara hanya tersedia layanan Puskesmas rawat Inap;
5. Masih banyak Puskesmas yang tidak memiliki strandart pelayanan.

Kesan team peneliti.
Berdasarkan hasil FGD dan interview dari narasumber, ada bebarapa kesan yang team bisa simpulkan antara lain :
1. Terbangunnya kesadaran awal dan pemahaman masyarakat untuk mengetahui seluk-beluk KTD.
2. Pemahaman untuk membangun dan dapat dimengerti bahwa adanya persamaan persepsi antara suami dan istri.
3. Penting adanya persiapan untuk remaja menjadi orangtua atau bapak dan ibu.

Saran Peserta FGD.
Dalam penelitian, terdapat berbagai saran dari perempuan
1. Bila perempuan hamil, maka kehamilannya diteruskan.
2. Bagi perempuan yang sudah tua, dihimbau untuk menghentikan kehamilannnya karena tingginya resiko.
3. Perempuan yang umurnya di bawah 20 tahun jangan dinikahkan karena umurnya masih belum dewasa ‘kecuali ada hal-hal lain’.
4. Perempuan dinikahkan karena hamil di luar nikah harus sesuai adat (memakai sarang ayam yang menetes /ZOSOU’A MANU.
5. Kehamilan karena incest harus digugurkan karena silsilah keluarga menjadi kacau.
6. Dihimbau kepada keluarga dan orangtua anak untuk memberikan perlindungan dan kasih sayang kepada anaknya, karena anak butuh perlindungan dan kasih sayang dari keluarga; sehingga anak tidak lagi membutuhkan perlindungan dari luar keluarga, karena itu dapat menimbulkan KTD.

Poin-poin klarifikasi/tambahan terkait hasil penelitian :

  • Tokoh Adat dari Nias yaitu Bapak Benyamin Harefa, menyatakan menerima hasil penelitian, tidak ada yang harus dipertentangkan. Kondisi tersebut merupakan gambaran kenyataan yang ada di masyarakat Nias. Jika mengacu kepada aturan adat yang dulu, sebenarnya hukuman adat sangat tegas untuk kasus-kasus perselingkuhan dan perzinahan. Mulai dengan siksaan fisik hingga dipenggal leher untuk kedua pelaku, perempuan dan laki-laki.
  • Melihat makin meningkatnya kasus-kasus kekerasan seksual, ada baiknya tokoh adat memberikan hukuman berat, jika perlu hukuman mati kepada pelaku KTD.
  • Pendidikan seksualitas sangat jarang dilakukan di tingkat rumah tangga. Jika ada anak yang menanyakan sesuatu hal kepada ibunya, biasanya dijawab dengan informasi yang tidak benar. Ketika ibu hamil, dikatakan bahwa ibu sedang sakit. Ditanya dari mana adiknya datang, dikatakan dibeli dari rumah sakit. Sehingga anak memperoleh informasi yang salah.

Rekomendasi untuk PESADA :
1. Agar semakin gencar memberikan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi untuk anak remaja dan ibu-ibu.
2. Bekerja sama dengan BKKBN untuk promosikan alat kontrasepsi untuk laki-laki dan perempuan.
3. Bekerja sama dengan pemerintah untuk lebih memaksimalkan hasil dalam menjangkau peserta diskusi/pelatihan.
4. Mendesak pemerintah untuk memastikan adanya data tentang KTD.
5. Mendesak pemerintah tentang ketersediaan tenaga dan layanan kesehatan yang bermutu.
6. Aktif mendekati sekolah-sekolah untuk menjangkau remaja-remaja.
7. Bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh adat untuk pendidikan seksualitas dan kespro yang kreatif untuk remaja. (BP)

Explore posts in the same categories: Seputar Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: