Konsultasi

Tanya:
Saya bernama ES (32) seorang ibu rumah tangga, mau konsultasi dengan Ibu. Kami sedang ada masalah. Permasalahan rumah tangga saya berawal dari suami saya P (45) yang tidak mempunyai pekerjaan, yang kerjanya selalu main judi. Persoalan bertambah setelah anak pertama saya lahir, suami saya tidak mau menjaga anak saya, padahal sehari-harinya saya jualan mie didepan rumah saya. Suami saya sering memukul saya, mengusir saya dari rumah, membuang barang-barang dari rumah; padahal semua biaya kontrak rumah saya yang bayar.

Sebelum saya menikah dengan suami saya, saya sudah berstatus janda dan mempunyai 1 anak. Memang alasan utama saya menikah lagi dengan suami saya ini, hanya untuk memperbaiki status. Karena banyak orang yang menanyakan dimana bapak anak saya, dan di arisan pun saya malu dengan sebutan janda.
Permasalahan kami sudah pernah didamaikan oleh tokoh adat masing-masing marga, dan suami saya minta maaf kepada orang tua saya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi sama saya. Tetapi setelah itu suami saya tidak juga berubah. Saya ingin sekali bercerai dengan suami saya, saya tidak tahan lagi untuk hidup bersama dengannya. Lebih baiklah saya tidak mempunyai suami kalau hanya terus dipukuli.

Bagaimana caranya saya bercerai dengan suami saya dan berkas-berkas apa yang harus saya lengkapi? Dan saya juga mau suami saya keluar dari rumah saya, serta hak asuh anak sama saya.

Jawaban
Kekerasan terhadap istri memang sering terjadi dalam pernikahan, karena ada keyakinan bahwa itu adalah hak suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga. Dalam hal ini yang pertama ibu lakukan adalah jangan diam saja ketika suami melakukan kekerasan. Kalau ibu berani, ibu bisa melaporkan perbuatan suami kepada aparat kepolisian. Perbuatan tersebut akan dikenai Pasal 44 UU No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT ) dengan sanksi pidana penjara paling lama 3 tahun.
Bila memungkinkan, lebih baik suami dipidana saja, tidak langsung cerai. Tetapi memang kalau tetap tidak ada perubahan, perceraian bisa menjadi jalan akhir. Kami hanya menyarankan agar putusan untuk bercerai jangan dikarenakan emosi sesaat, karena kalau dilihat dari usia pernikahan ibu masih ± 1 tahun.
Perlu ada kesiapan matang untuk menjalani kehidupan berikutnya, dan harus mampu belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu. Karena ini akan berarti ibu harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Kami harap Ibu siap untuk menghadapi masalah ini. Predikat janda sering dipandang negatif. Apalagi jika dialami pada usia masih muda. Status janda selalu diartikan dengan hal negatif, dan lebih buruk daripada predikat duda. Misalnya, sering terlontar ucapan “dasar janda”. Masyarakat terlanjur mencap janda sebagai status yang rendah dan lingkungan selalu merasa curiga.
Sepanjang keinginan Ibu untuk berusaha melanjutkan hidup setelah dihadapkan pada keretakan rumah tangga, sanggup menghadapi berbagai kemungkinan di atas, tetaplah tegar. Tidak perlu terlalu perduli dengan ucapan orang. Yang penting bagaimana kita tetap berjalan di jalur yang benar dan bertanggungjawab terhadap anak, diri sendiri dan di hadapan Tuhan. Untuk berkas-berkas kelengkapan perceraian, Ibu perlu menyediakan: KK, Akte Nikah Sipil, KTP, foto gandeng. (SS)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

One Comment pada “Konsultasi”

  1. Ramida Sinaga Says:

    Thanks untuk teman-teman PESADA…….isinya sangat informatif…semoga semakin banyak yang membaca…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: