Konsultasi

Tanya:
Saya MP (32 thn), Wiraswasta, perempuan kepala keluarga dengan satu anak perempuan (9 tahun). Pada 30 Agustus ini saya akan menikah dengan duda HA (36 tahun), PNS, dengan satu anak laki-laki (3 tahun). Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana status harta yang saya hasilkan sebelum menikah dengan dengan HA? Karena HA meminta agar kami menjual rumah tempat tinggal HA dan rumah saya untuk membeli ruko untuk usaha yang akan saya kelola. Dimana nilai rumah saya jauh lebih tinggi. Saya sangat kuatir akan hal ini, dimana sebelum menjelang pernikahan saya dan HA telah membuat kesepakatan bersama secara lisan, akan tetapi tidak satupun dilakukan oleh HA. Terimakasih.

Jawab:
Perkawinan di Indonesia diatur dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Undang-undang ini berlaku umum, dalam artian berlaku untuk yang muslim dan non muslim. Untuk yang muslim, ada lagi pengaturan yang khusus, yaitu Kompilasi Hukum Islam (“KHI”).
Baik dalam UU Perkawinan maupun dalam KHI, terdapat dua jenis harta kekayaan, yaitu harta bersama dan harta bawaan. Dalam Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan,“Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama”. Lebih lanjut dalam ayat (2) dikatakan “Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain”.
Redaksi “sepanjang para pihak tidak menentukan lain” berupa pembuatan Perjanjian Perkawinan pisah harta sebelum pernikahan dilangsungkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat (1) UU Perkawinan:
“Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas perjanjian bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”.

Begitu juga dalam Pasal 87 ayat (1) KHI disebutkan mengenai harta bawaan:
“Harta bawaan masing-masing suami dan istri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.”

Jadi harta yang dihasilkan sebelum ibu menikah dengan HA disebut harta bawaan, akan tetapi jika ibu menjual rumah untuk membeli ruko, bangunan ruko tersebut akan menjadi harta bersama/ harta gono gini, karena harta tesebut dibeli/ diperoleh setelah adanya pernikahan. Terhadap pasangan suami istri yang tidak membuat perjanjian perkawinan pisah harta, harta bersama harus dibagi dua sama rata antara suami istri.

Jadi jika ibu merasa kuatir sebaiknya dibuat perjanjian perkawinan pisah harta. Dan untuk mengingatkan HA ada baiknya kesepakatan/ janji-janji HA ditulis pada perjanjian perkawinan tersebut. Demikian, semoga bermanfaat. (HS)

Foto Februari..14

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: