Memperjuangkan Hak Perempuan di Masyarakat Adat

Pengantar
Hak Azasi Perempuan telah dimuat di dalam UU no 7 tahun 1984, tetapi secara khusus tantangan perempuan di masyarakat adat belum secara eksplisit dinyatakan. Sebagai sebuah Negara yang terdiri dari berbagai suku, masyarakat adat cukup kuat dalam menjalankan norma-norma adat yang merupakan identitas suku. Hukum Adat diharapkan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan keadilan, di samping hukum Negara.

Peserta Lokakarya Tukar Pengalaman Perempuan Masyarakat Adat  di New York City, 20 September 2014 (kiri ke kanan: Vivi/Maluku, Ovy/Kaltim, Pakao/Myanmar, Patricia/Guatemala)

Peserta Lokakarya Tukar Pengalaman Perempuan Masyarakat Adat
di New York City, 20 September 2014
(kiri ke kanan: Vivi/Maluku, Ovy/Kaltim, Pakao/Myanmar, Patricia/Guatemala)

Pada pihak lain, perempuan sendiri sebenarnya menghadapi tantangan untuk dapat memposisikan diri setara dengan laki-laki di masyarakat adat. Sehingga bukan hanya berhadapan dengan Negara untuk diakui hak-haknya sebagai perempuan, tetapi juga di dalam masyarakat adatnya sendiri, perempuan masih harus berjuang.

Untuk itu, di bawah ini kami sampaikan pernyataan mengenai hal tersebut untuk menambah pengetahuan dan kesadaran kita perempuan akan masalah tersebut. PESADA adalah aliansi utama JASS dan menjadi anggota FAMM Indonesia.

Press Release
FAMM Indonesia dan JASS Asia Tenggara
Kedaulatan Perempuan adalah Basis Kekuatan
Masyarakat Adat dan Bangsa Indonesia

United Nations World Conference on Indigenous Peoples (WCIP) merupakan kegiatan tingkat internasional yang akan dilakukan pada tanggal 22-23 September 2014 di Markas PBB, New York, AS.

JASS (Just Associates) dan Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) akan menggunakan ruang tersebut untuk membawa suara dan usulan dari perempuan adat dan organisasi mereka yang bekerja mempertahankan sumber daya alam di daerah masing-masing. JASS akan memfasilitasi kegiatan dan pertemuan dengan beberapa organisasi lokal.

Elvira Marlien Marantika, seorang perempuan masyarakat adat dari suku Kuralele Maluku, yang bekerja di Yayasan Humanum mengatakan bahwa, “Masyarakat adat telah mengalami penindasan dalam waktu yang lama. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin sebuah komunitas adat memperkuat dirinya sendiri? Hal ini mendorong perempuan adat untuk melakukan pengorganisasian. Perempuan adat perlu menyadari pengalaman mereka sebagai sumber kekuatan, menganalisis situasi mereka sendiri, belajar untuk memperjuangkan akses ke sumber daya untuk bias mendapatkan kontrol atas masa depan mereka. Ini adalah kekuatan mengorganisir.”

JASS Asia Tenggara (jaringan regional JASS) dan FAMM Indoensia akan mengirimkan 3 aktivis perempuan sebagai delegasi dari Indonesia. Mereka akan membawa hasil pembelajaran dan pengalaman dari Lokakarya JASS mengenai Perempuan Adat yang diadakan Juli 2014 di Jawa Barat, Indonesia. Mereka bersama perempuan adat dari Filipina, Kamboja, Malaysia, dan Myanmar berkumpul untuk merefleksikan dan berbagi pengalaman perempuan dalam pengorganisasian perempuan adat. Salah satu bentuk kontribusi aktivis perempuan muda adalah pengorganisasian untuk memberi kesadaran kritis kepada perempuan dan masyarakat adat tentang posisi perempuan, karena lahirnya kebijakan formal tidak otomatis menyelesaikan masalah yang dihadapi perempuan adat.

Berikut ini adalah nama aktivis perempuan yang akan mengikuti WCIP.
• Olvy Oktavianita Tumbelaka dari AMAN Kaltim, Kalimantan Timur.
• Marlien Elvira Marantika dari HUMANUM, Maluku.
• Dina Lumbantobing dari Perkumpulan Sada Ahmo, Sumatera Utara.

Mereka adalah aktivis perempuan yang bekerja di akar rumput mengorganisir perempuan, khususnya masyarakat adat. Kami sebagai forum perempuan aktivis muda dan didukung aktivis multi generasi di Indonesia menginisiasi dan mendorong adanya perhatian khusus yang diberikan terhadap partisipasi perempuan adat dan aktivis perempuan dalam kegiatan ini.

Keterlibatan FAMM Indonesia dalam forum internasional ini dalam rangka menyuarakan dan menekankan dampak dari ketidakadilan dan diskriminasi berlapis yang dialami perempuan adat di dalam dan di luar komunitasnya. Perempuan muda dari masyarakat adat menghadapi diskriminasi berlapis: sebagai anak muda, sebagai perempuan dan sebagai bagian dari masyarakat adat. “Proses integrasi” masyarakat adat ke dalam kebijakan nasional dan penerapan unsur-unsur budaya arus utama seringkali melemahkan posisi perempuan adat.

Kebijakan pemerintah yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, kebanyakan berada di tanah adat, berdampak serius terhadap peran dan kualitas hidup perempuan. Di satu sisi, aktivis perempuan adat mencatat adanya perlakuan diskriminatif, intimidasi dan kekerasan terhadap perempuan dari pemerintah, perusahaan multinasional, dan militer. Di sisi lain, kami juga melihat hukum adat belum secara maksimal memberikan hak perempuan untuk mengakses, berpartisipasi,mengontrol dan memperoleh manfaat dari tanah ulayat serta seluruh sumberdaya alam lainnya.

Perempuan adat berperan penting dalam proses adaptasi komunitasnya terhadap berbagai perubahan (lingkungan dan budaya) karena mereka adalah pengelola keanekaragaman hayati, sumber kearifan lokal, penjaga benih, penerus generasi, mengasuh anak, terlibat dalam upacara adat, dll. Khususnya di Indonesia di mana perempuan adat hidup di wilayah kepulauan dan pesisir. Kenaikan permukaan laut hampir menghilangkan akses perempuan adat terhadap sumber protein tinggi dan mata pencaharian mereka. Perempuan pribumi menghadapi beban tambahan dalam kehidupan sehari-hari karena sulitnya mengakses air bersih atau perjalanan jarak jauh untuk mencari bahan bakar.

Melalui Movement Building Initiative (MBI) yang dilakukan sejak tahun 2007, FAMM-I berupaya memperluas akses aktivis perempuan muda dalam meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan pengorganisasian dengan perspektif perempuan, yang melihat kebutuhan, masalah dan kepentingan yang berbeda dibandingkan dengan kaum laki-laki. Penguatan kapasitas tersebut pada gilirannya akan memperkuat pengkaderan pada pemuda-pemudi yang akan menjadi organisator komunitas selanjutnya. Dengan begitu, diharapkan suara, pengalaman, dan dan kepentingan perempuan terakomodasi dalam kebijakan di tingkat masyarakat adat dan tingkat nasional.

Selain menyuarakan tantangan berlapis yang dihadapi perempuan adat, partisipasi kami dalam WCIP ini juga ingin mendesak pemerintah Republik Indonesia dan aktivis masyarakat adat untuk memperhatikan hal-hal tersebut di atas dan mengambil langkah-langkah cermat untuk memastikan pengakuan, kedaulatan, dan perlindungan hak-hak perempuan masyarakat adat.

Untuk mendapatkan dukungan lebih luas terhadap isu yang kami bawa, FAMM Indonesia dan JASS-SEA bekerjasama dengan beberapa organisasi akan mengadakan konferensi pers dan/atau menyebarkan press release di 3 tempat sebagai berikut.
• Samarinda, 15 September 2014 bekerjasama dengan AMAN Kaltim. Narahubung: Olvy Octavianita (0812.3550.0553)
• Ambon, 13 September 2014 bekerjasama dengan Yayasan HUMANUM. Narahubung: Vivi Marantika (0813.4346.2233)
• Medan, 15 September 2014 bekerjasama dengan Perkumpulan Sada Ahmo. Narahubung: Dina Lumbantobing (0821.64.6666.15)

Malang, 15 September 2014
Niken Lestari, FAMM Indonesia
Chan Kunthea, JASS-SEA

Catatan:
Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAMM-I) adalah organisasi perempuan yang fokus pada peningkatan kapasitas aktivis perempuan muda di Indonesia untuk keberlangsungan gerakan perempuan akar rumput.
JASS (Just Associates) adalah organisasi perempuan internasional yang fokus pada upaya penguatan aksi, publikasi, dan pengorganisasian kolektif perempuan untuk mewujudkan dunia yang adil dan berkelanjutan untuk semua.

Explore posts in the same categories: Tema Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: