Konsultasi

Tanya:

Saya seorang ibu berusia 28 tahun, mempunya dua orang anak, dan tinggal di Medan. Sehari – hari saya mengajar di PAUD. Dua tahun terakhir ini suami saya bekerja di bandara Kuala Namu, dia sudah punya penghasilan tetap dan lumayan. Setiap bulan saya memang diberikan uang belanja namun sebenarnya itu tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Tetapi saya tidak terlalu mempermasalahkan, karena saya masih bisa berusaha, sebagai guru PAUD, selain saya juga berladang di halaman rumah saya.

Saat ini saya sedang stress memikirkan masalah rumah tangga saya, dimana sejak saya mengandung anak ke dua, suami suka bersikap kasar, mabuk dan judi. Perlakuannya kepada saya, mulai dari memukul tubuh saya, menendang perut saya yang sedang hamil besar, puncaknya leher saya dicekik, sampai saya pingsan, hanya karena masalah yang tidak terlalu besar. Mertua saya ada di situ, tetapi tidak membela saya.

Karena takut jiwa saya terancam, saya membawa anak – anak pergi meninggalkan rumah. Yang ingin saya tanyakan apa yang bisa saya lakukan? Bagaimana dengan status anak – anak saya nantinya?

Jawab:

Kami sangat prihatin mendengar masalah Ibu, apakah Ibu mengetahui apa kira – kira penyebab berubahnya suami Ibu?

Memang secara Hukum, suami Ibu telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) secara Fisik dan Psikis, yaitu melanggar pasal 44 & 45 UU Penghapusan KDRT No. 23 tahun 2004. Dimana ancaman hukuman di atas 5 tahun. Apakah Ibu sudah pernah mendengar UU ini? Apakah Ibu juga sudah pernah melapor masalah ini ke keluarga besar suami Ibu? Apakah tetangga sering mendengar? Dan apakah pernah kepala lingkungan ikut melerai?

Secara hukum, Ibu bisa melaporkan kekerasan yang Ibu alami ke polisi atau lembaga bantuan hukum seperti WCC Sinceritas di PESADA. Untuk itu Ibu perlu menyiapkan dokumen – dokumen pendukung misalnya KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah dari gereja/Akte Kawin, Akte Lahir Anak, dll. Hal ini dimaksudkan sebagai kelengkapan untuk melapor nantinya.

Di tahap awal ini, kami bisa membantu upaya sebelum masuk ke jalur hukum yaitu memberikan surat somasi/peringatan kepada suami ibu, sehingga dia mengetahui ancaman hukuman dari perbuatannya dan tidak sembarangan lagi bertindak kepada Ibu sebagai istrinya.

Surat somasi tersebut akan beri tembusan kepada Kepala Lingkungan tempat tinggal Ibu berada. Sebagai informasi bagi Ibu surat somasi adalah surat peringatan bersifat hukum yang bisa dilayangkan 2 x, bila tidak ada perubahan maka bisa menempuh jalur hukum. Mudah – mudahan suami Ibu bisa berubah. Kepala Lingkungan juga akan memonitor kasus ini. Untuk sementara ini, jika Ibu masih merasa tidak nyaman mungkin bisa tinggal dengan keluarga Ibu dulu.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga Ibu bisa terbantu dan masalah ini bisa diatasi. Terima kasih. (KL)

Explore posts in the same categories: Konsultasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: