Penguatan Perempuan

PENGALAMAN MENGIKUTI KEGIATAN LOKALATIH
SEKSUALITAS DAN FUNDAMENTALIS
(Oleh Pipi Gajah Manik)
Malang, 22-25 September 2014
 
Pendahuluan

Membuat tulisan sehabis pulang dari mengikuti pelatihan dimanapun kegiatannya dan siapapun penyelenggaranya, merupakan kewajiban. Mungkin itu hal yang biasa kepada teman-teman. Tetapi bagi saya ini yang pertama saya menulis. Menulis adalah bisa dibilang hal yang asing bagi saya. Jadi bagimanapun nantinya tulisan saya ini, harap dimaklumi, dan kalau bisa kepada para pembacanya memberikan komentar dan sarannya. Itu sekedar intermeso dari saya yang pemula, Terimakasih,,,.

Pertama-tama saya mengikuti pelatihan keluar propinsi yang diselenggarakan oleh FAMM I adalah MBI I di Bukit Tinggi dan yang kedua di Malang, dengan penyelenggara yang sama. Sebelum berangkat ke Malang tanggal 22 September, tanggal 19 saya masih berada di salah satu desa dampingan PESADA yang sangat terpencil, jalan rusak, listik pun belum ada dan sangat jauh dari kantor. Tanggal 22, saya sudah di Hotel Swiss Bell Malang. Saya serasa bermimpi, menapakkan kaki di hotel mewah berbanding terbalik dengan desa dampingan yang saya ceritakan tadi, dalam waktu yang menurut saya singkat. Di situ saya baru percaya tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

Perkenalan

Di hari pertama saya sampai disana, acara dimulai pada malam hari. Kami saling memperkenalkan diri. Peserta ada dari beberapa Propinsi, jumlah peserta 21 orang semua peserta perempuan. Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan orang luar dari Propinsi saya dan beberapa dari suku-suku yang ada di Indonesia ini. Disini saya semakin bertambah rasa kepercayaan diri saya, bahwa tidak hanya sedikit perempuan yang mau rela membela hak Perempuan.

Kegiatan ini mendiskusikan mengenai Seksualitas dan Fundamentalis. Dalam kegiatan ini saya menemukan banyak pengalaman baru, dimana peserta yang mengikuti kegiatan ini memiliki karakter, kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda-beda. Jadi disini kami saling tukar pikiran, pengalaman, dan bagaimana cara mendampingi masyarakat khususnya perempuan. Setelah peserta sudah saling kenal, Fasilitator memberikan metaplan, dan meminta agar masing-masing peserta menuliskan harapan, kontribusi dan aturan apa yang akan di patuhi selama kegiatan berjalan.

Personal stories.

Di hari kedua masuk ke sesi personal stories, karena bercerita dan diskusi mengenai seksualitas tidak mudah bagi sebagian orang. Maka kegiatan ini dimulai dengan meditasi. Dengan mendengar arahan dari fasilitator, kami pun memulai meditasi. Setelah meditasi selesai, memang benar saya merasakan ketenangan didalam diri saya, karena didalam meditasi fasilitator memberikan arahan agar tidak bergerak, tidak mengeluarkan suara dan seluruh tubuh dibuat santai.

Setelah meditasi selesai fasilitator memberikan metaplan dan meminta peserta menuliskan pengalaman seksual yang membekas. Di kegiatan inilah saya berani menceritakan pengalaman saya yang paling membekas sampai saat ini, pegalaman ini sedikit menyebalkan, inilah pertama kalinya saya ceritakan sama orang lain, bahkan sama Mamak saya tidak pernah saya ceritakan. Tapi entah kenapa pas di kegiatan ini saya ceritakan, mungkin pengaruh dari meditasi tadi saya mau menceritakannya. Setelah menceritakannya saya merasa lega sepertinya beban yang saya simpan selama ini bisa berkurang.

Mendengar cerita pengalaman dari seluruh peserta, ada beberapa peserta menceritakan pengalamanya sampai menangis. Tetapi sebelum mereka bercerita saya merasa pengalaman saya pasti yang paling menyebalkan, ehhh,, ternyata ada yang lebih parah, sehingga membuat saya tambah lega, karena melihat teman-teman yang sampai menangis ceritanya tetapi tetap semangat dan kelihatan tidak ada beban mereka selalu ceria.

Analisis Gender.

Di sesi analisa Gender dan seksualitas kami membahas mengenai seluruh organ tubuh Perempuan dan Laki-laki didalam pencitraan masyarakat. Citra mengenai organ tubuh sudah diajarkan sejak kecil oleh lingkungan sosial, agama dan negara. Sehingga masyarakat bahkan saya sendiri percaya, mengenai apa-apa saja pencitraan masyarakat. Yang membuat saya miris, pencitraan masyarakat mengenai organ tubuh banyak perempuan yang selalu dirugikan. Padahal apa yang dicitrakan masyarakat tentang perempuan tersebut belum tentu benar. Disini juga saya lebih memahami bagaimana pencitraan masyarakat terhadap organ tubuh yang terkadang tidak masuk diakal.

Bicara tentang Seksualitas ternyata ruang lingkupnya sangat luas dan tidak dapat didefinisikan karena berhubungan dengan banyak hal, namun banyak yang mengaku Laki-laki dan Perempuan saja. Ada beberapa orientasi seksual yang pernah saya dengar, Lesbian, Gay dan ada yang baru saya dengar di kegiatan ini seperti Biseksual, Transseksual dan Queer.

Bicara mengenai hasrat seksual adalah imajinasi kita berpikir mengenai seksualitas, terkadang gender tidak otomatis menentukan hasrat dan orientasi seseorang. Di dalam pikiran saya memang ada yang seperti itu, karena peserta yang lain melihat saya seperti kebingungan, mereka bertanya kepada saya. “Kenapa Pi? “kata mereka; saya membicarakan apa yang ada didalam pikiran saya, beberapa peserta bercerita mengenai orentasi seksualnya. Ternyata peserta yang mengikuti keagiatan tersebut ada yang memiliki orentasi seksual seperti yang di atas tadi, dan bahkan saya baru mengetahui ada sekitar 300 identitas seksual, Kalau saya tanya disitu kali, apa-apa saja itu, mungkin 1 bulan gak selesai Lokalatihnya.

 

Good or Bad Girl???

Sehingga keluar lagi dalam pikiran saya tidak ada yang tidak mungkin. Setelah banyak berdiskusi mengenai gender dan seksualitas, telah membahas secara luas mengenai pencitraan mengenai organ tubuh, fasilitator meminta peserta lokalatih menenpatkan dirinya di posisi Good Girl atau Bad Girl, dan saya memilih di tengah-tengah antara Good Girl dan Bad girl.

Fasilitator bertanya pada saya kenapa memilih di tengah-tengah, saya menjawab karena di beberapa kriteria Good dan bad girl, karena melihat dari pencitraan masyarakat ada beberapa kriteria saya good girl dan saya ada juga di beberapa kriteria bad girl, maka saya memutuskan ditengah-tengah. Tetapi fasilitator memberikan kesimpulan Good Girl atau pun Bad Girl kita sendiri yang menilainya. Tidak usah kita melihat pencitraan dari masyarakat, karena yang menjalani hidup itu kita. Kalau itu yang membuat kita senang jalanilah asalkan tidak merugikan orang lain.

 

Penutup.

Hal yang membuat saya terheran-heran, diwaktu kami membicarakan mengenai seksualitas tanpa tabu, disini peserta semakin lebih terbuka karena sudah saling dekat satu sama yang lainnya, disini juga saya mendapat ilmu dan hal-hal baru yang belum pernah saya lihat dan saya dengar sebelumnya.

Saya merasa senang mengikuti lokalatih ini menambah kepercayaan diri saya, menambah ilmu dan menambah teman tentunya. Semoga ada kegiatan seperti ini kedepannya, supaya rasa membela hak perempuan itu lebih tinggi lagi dari diri saya sendiri. Terimaksih saya ucapkan kepada PESADA telah mengirim saya mengikuti lokalatih ini, terimaksih kepada FAMM yang telah memilih saya jadi peserta dan terimakasih buat teman-teman peserta Lokalatih Seksualitas dan Fundamentalis yang mau berbagi ilmunya kepada saya. Sekian dan terima kasih.(PGM)

CERITA DARI HUMBANG HASUNDUTAN
Pentingnya Pendidikan seks sejak dini.
(Tulisan Konselor WCC Sinceritas/Dewi Hairani)

5555

Women Crisis Center (WCC Sinceritas PESADA) wilayah Humbang Hasundutan hingga bulan September tahun 2014 menangani 8 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Peristiwa ini hanya beberapa kasus yang muncul dari begitu banyaknya kasus yang terjadi. Kesemua kasus yang terjadi menimpa anak dengan rentang usia 4-12 tahun beberapa merupakan siswa SD dan yang belum bersekolah.

Jumlah ini dinilai sangat tinggi mengingat kasus terjadi di kabupaten kecil dan masih menjunjung tinggi adat istiadat. Yang membuat miris, dari semua kasus yang terjadi, tidak seorang anakpun yang mengatakan langsung peristiwa yang dialaminya. Mereka hanya menyimpan sendiri atau mengatakan kepada orang lain, bukan kepada orang tua.. Korban tidak mengetahui bahwa perbuatan yang terjadi padanya merupakan perbuatan yang tidak boleh terjadi atau melanggar hukum, karena pelaku merupakan orang terdekat; seperti paman, ayah, kakek, abang atau anggota keluarga, yang dirasa tidak akan melakukan perbuatan itu.

Pendidikan Seks.

Peristiwa di atas menurut pandangan WCC Sinceritas adalah karena ketidak tahuan anak mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tubuh dan alat-alat reproduksinya termasuk jenis kelaminnya sendiri. Atau yang disebut dengan istilah SEX. Hal-hal yang berhubungan dengan SEX, yaitu SEXUALITAS, dipahami anak sebagai bentuk larangan, tanpa pemahaman mengenai hal itu dengan baik dan terbuka.

Orang tua menganggap anak akan otomatis tahu mengenai tubuhnya hanya dengan mendidik mengenai kebersihan misalnya. Itupun, biasanya adalah tugas Ibu. Mungkin juga merasa pendidikan ini tidak penting, dan kuatnya anggapan bahwa membicarakan hal ini adalah tabu.

Banyaknya peristiwa kekerasan seksual yang dialami anak, bahkan kehamilan di kalangan remaja putri, menunjukkan pentingnya mereka memperoleh pendidikan seks, dan bahwa sebaiknya lembaga pertama yang dapat melakukannya adalah keluarga.

Media informasi yang berkembang seperti akses ke internet, buku-buku maupun video yang lolos dari perhatian orangtua, membuat anak dan remaja kerap menerima informasi yang salah mengenai seks. Oleh karenanya informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka.

Kapan Pendidikan Seks Dimulai?

Sebaiknya memberikan pendidikan seks pada anak dimulai sejak dini! Pendidikan seks dimulai bahkan sejak anak masih balita. Jika orang tua memberikan pendidikan seks pada saat anak masih balita maka anak akan terhindar dari pengetahuan tentang seks dan kemungkinan besar dari sudut pandang yang salah.

 

Bagaimana Pendidikan Seks Diberikan?

Tujuan dari pendidikan seks juga disesuaikan dengan perkembangan usia, yaitu sebagai berikut :

  1. Usia balita (1-5 tahun) Memperkenalkan organ reproduksi yang dimiliki seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi serta cara melindunginya. Dapat dilakukan ketika memandikan si anak dengan memberitahu nama organ yang dimilikinya, saat mendidik anak menggunakan pispot dan toilet. Pada usia ini juga perlu disampaikan siapa yang boleh memegang alat kelaminnya, membantu membersihkannya dsb, serta sikap asertif yaitu berani berkata tidak kepada orang lain.
  2. Usia sekolah (6-10 tahun) Pada usia ini, biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya anak akan bertanya dari mana ia berasal. Atau pertanyaan umum mengenai asal-usul bayi. Jawaban sebaiknya yang sederhana dan terus terang. Memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal-usul manusia, membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.
  3. Usia menjelang remaja : Saat ini remaja mengalami masa pubertas dan karakteristiknya, serta menerima perubahan dari bentuk tubuhnya. Disini anak semakin berkembang. Inilah saatnya mulai saatnya diterangkan mengenai menstruasi, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada seseorang remaja. Pada anak perempuan dapat dijelaskan akan mengalami perubahan bentuk payudara, atau terangkan akan adanya tumbuh bulu-bulu di sekitar alat kelaminnya.
  4. Usia remaja Memberi penjelasan mengenai perilaku seks yang merugikan (seperti seks bebas), menanamkan moral dan prinsip ‘katakan tidak‘ untuk seks pra nikah serta membangun penerimaan terhadap diri sendiri. Juga memahami hubungan dalam pacaran, dan bahwa cinta tidak sama dengan berhubungan seks.

Pendidikan seks sejak dini akan menghindari anak mengalami pelecehan/kekerasan seksual, menghindari kehamilan di luar pernikahan maupun kehamilan tidak diinginkan. Tidak perlu tabu membicarakan seks dalam keluarga. Karena anak perlu mendapatkan informasi yang tepat dari orangtuanya, bukan dari orang lain tentang seks. (DH/ DL)

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: