Thema Kita

Pernyataan pada Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di SUMUT

Pada tanggal 24 November 2014, sekitar 100 perempuan melakukan diskusi dan mengeluarkan pernyataan mengenai aktivis perempuans ebagai pejuang Hak Azasi Perempuan, sbb.:

Hidup Perempuan… Hidup Perempuan… Hidup Perempuan…!!”

MARI BERSAMA LINDUNGI AKTIVIS PEREMPUAN PEMBANGUN GERAKAN

“LAWAN SEGALA BENTUK KRIMINALISASI, DISKRIMINASI, STIGMA, DAN REPRESI TERHADAP PEREMPUAN PEJUANG HAM”

Sejak tahun 1960, tanggal 25 November setiap tahunnya dirayakan secara Internasional sebagai Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di seluruh dunia.Ini adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan Minerva, Maria Teresa, dan Patricia Mirabel (La Miraposa – The Butterflies); tiga kakak beradik yang ikut dalam perjuangan strategis melawan rezim fasisTrujilo di Dominika, yang kemudian dibunuh setelah diperkosa secara bergiliran oleh polisi rahasia pada 25 November 1960.

Kekerasan terhadap aktivis perempuan masih terulang di belahan dunia, tidak berbeda di Indonesia.Sebut saja Eva Bande (Aktivis Perempuan Palu) yang saat ini mendekam di penjara atas perjuangannya dengan petani untuk berjuang melawan kapitalisasi perkebunan sawit, ada Nurhalimah seorang aktivis Perempuan Mahardhika dari Makassar yang diperkosa kemudian dibunuh dengan cara ditusuk puluhan kali, ada juga para diakones yang mengalami ancaman saat advokasi kasus menolak pertambangan yang tidak ekologis, beberapa aktivis perempuan yang bekerja di Women Crisis Center juga tidak lepas dari intimidasi pelaku/keluarga saat mengadvokasi kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan. Selain itu stigma negative, fitnah dan subordinasi menjadi fenomena sinis dari masyarakat dan kelompok adat kepada perempuan aktivis karena dianggap mereka keluar dari “takdir”, dan diskriminasi perempuan karena orientasi seksualnya.Selain itu, birokrasi yang berbelit-belit dan tidak professional juga menjadi alat represi baru yang menghalangi kerja advokat/pendamping sehingga membuat aktivis perempuan kesulitan karena proses kerja advokasi kasus menjadi lebih lama dan cenderung dipersulit.

Masalah penting yang juga berkecamuk adalah tingginya kekerasan seksual yang juga dialami oleh perempuan dan aktivis perempuan.Tidak sedikit perempuan yang mengalami pelecehan saat bekerja dalam kerja-kerja pendampingan / advokasi.
Selain masalah dengan perjuangannya, perempuan yang sehari-harinya berjuang di desa, di kota, mendampingi petani, mendampingi kaum miskin kota, ataupunorganisasi mahasiswa tidak terlepas dari masalah social dan politik oleh Karen dia adalah aktivis. Masalah kemanusiaan seputar dirinya datang silih berganti.Serangkaian masalah ini seperti kondisi kesehatan yang menurun (terutama penyakit yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi) di tengah pekerjaan kemanusiaan yang membutuhkan stamina tinggi, tekanan untuk menikah lebih cepat di hari-hari besar keluarga sehingga seringkali perempuan yang belum menikah (atau memilih untuk tidak menikah) menjadi tidak nyaman saat berkumpul dengan keluarga besar, jaminan akan hari tua yang tidak jelas bagi perempuan yang menghabiskan masa hidupnya untuk berjuang, dan masalah perempuan agraris yang seringkali direpresi saat berjuang mempertahankan lahannya di tengah massifnya perampasan lahan oleh kapitalis.

Dengan banyaknya masalah yang dating ditengah kehidupan perempuan aktivis dan aktivis perempuan, maka penting bagi kita untuk melakukan aksi 25 November yang dikenal dengan Hari Anti KekerasanTerhadap Perempuan sebagai bentuk solidaritas kita terhadap perlawanan pada kekerasan, kriminalisasi, diskriminasi, dan represi terhadap aktivis perempuan di seluruh dunia.

Adapun tuntutan Kelompok  Aktivis Perempuan SUMUT dalam aksi   Hari Anti KekerasanTerhadapPerempuan pada hari ini adalah:

  1. Terjaminnya birokrasi pelayanan publik yang professional, jujur, mudah diakses, dan berperspektif jender.
  2. Terjaminnya ruang publik yang aman dan nyaman bagi aktivis perempuan dalam advokasi dan pendampingan korban.
  3. Penerapan sanksi hukum yang tegas dan maksimal terhadap pelaku kekerasan perempuan.
  4. Mendesak agar RUU kekerasan seksual segera disahkan.

Demikianlah statement ini kami perbuat dengan harapan agar masyarakat dan Negara semakin mendukung gerakan perempuan dan tidak ada lagi korban kriminalisasi, diskriminasi, stigma, dan represi terhadap perempuan pejuang HAM di masa depan.

Salam Setara,

KELOMPOK AKTIVIS PEREMPUAN SUMUT
(PESADA, PEREMPUAN MAHARDHIKA, YAPIDI, CU Pesada Perempuan Sidikalang,  BARSDEM, IPPI, WCC GKPS SopoDame, KN-LWF)

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: