Advokasi Anak

DOWN SYNDROME TIDAK SAMA DENGAN IDIOT

Teti Ichsan M.Si ( Peneliti dan orang tua  dari anak  Down Syndrome)

Memahami Arti Down Syndrome

Bagi orang tua atau keluarga yang memiliki anak  down syndrome, komentar seperti ini masih sering terdengar di telinga kita : “ Ooooh….ibu,bapak atau keluarga yang memiliki anak dengan wajah serupa itu lho ya…… yang idiot ”. Miris rasanya , meskipun dikatakan  dengan nada biasa-biasa saja namun tetap membuat perasaan orang tua tidak  nyaman. Gerah, jengah dan  terganggu “idiot” artinya sama dengan “tolol” atau “bego” atau bisa dikatakan   “dungu”.  Sebutan tersebut memiliki  arti  bahwa orang tersebut tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam hal apapun.

Definisi idiot : taraf (tingkat) kecerdasan berpikir yang sangat rendah (IQ lebih kurang 25); daya pikir yang lemah sekali (nomina). Sementara karakteristik  intelektual individu Down  sydnrome  diidentifikasi berada pada kelompok mental retarded moderate sampai dengan IQ 70.

Dalam teori Multiple Intelligences  atau  kecerdasan majemuk  menurut Howard Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau kecerdasan ganda ini Howard Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.

Individu  down syndrome, dapat mencapai optimalisasi dalam unsur-unsur kecerdasan tertentu. Tidak hanya berpaku pada kecerdasan intelektual yang hanya diukur dengan menggunakan beberapa tes inteligensi yang sempit saja, atau  hanya sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Potensi Anak Down Syndrome

Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat memprediksi kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Seperti anak-anak pada umumnya kecerdasan dan kematangan perkembangan anak-anak Down syndrome memiliki kurva normal, kemampuan mereka sebagian besar berada pada klasifikasi kelompok Moderate ( IQ, 40-50) yaitu mampu latih, namun ada juga sebagian masuk kedalam klarifikasi Mild  mampu didik . Dan tentunya ada juga yang berada dalam kelompok Severe, yang betul-betul butuh bantuan karena mereka tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Namun pada kenyataannya, dengan kemampuan ( kecerdasan)  yang mereka miliki didukung dengan stimulasi yang optimal  baik dari keluarga maupun dari lingkungan sebagian dari anak Down syndrome memiliki kemampuan, diantaranya mereka memliki kemampuan minimal, seperti mereka dapat :

  • Menulis, membaca dan berhitung ,  bukankah itu termasuk  kecerdasan  dasar akademik?
  • Melukis, bukankah itu kemampuan seni?
  • Berenang, main golf, atletik, bukankah itu kecerdasan  kinestetik?
  • Memainkan alat musik seperti piano, drum, jimbe, biola, bukankan itu kecerdasan musik?
  • Bersosialiasasi menjalin hubungan dan memiliki keterampilan komunikasi didalam masyarakat.

Dari poin-poin diatas tadi memberikan gambaran kepada kita bahwa anak-anak dengan Down syndrome memiliki kemampuan minimal untuk membantu diri sendiri. Dan keterampilan-keterampilan tersebut dapat digolongkan kedalam  kecerdasan  interpersonal.  Selain itu mereka memiliki afeksi seperti rasa kasih sayang, empati yang lebih dibandingkan dengan individu pada umunya, bukankah ini kecerdasan intra personal?

Mengapa Terjadi Down Syndrome & Dukungan Yang Dibutuhkan

 Down syndrome terjadi karena adanya kelainan kromosom 21, lalu apa dampak dari kelainan kromosom tersebut terhadap perkembangan anak?  Salah satu dampak dari abnormalitas kromosom 21 adalah adanya keterbelakangan intelektual (Intellectual disability), yang erat kaitannya dengan kemampuan akademik.  Sementara kemampuan akademik bukanlah satu-satunya kecerdasan yang dimiliki oleh manusia.

Kecerdasan majemuk dapat memberikan ruang untuk dapat  berkembangnya  berbagai unsur-unsur dari  kecerdasan  tersebut. Permasalahannya sekarang  apakah kita sudah membantu dalam membuka ruang kecerdasan tersebut dengan memberikan dukungan kepada mereka dalam  memfasiltasi dengan memberikan kesempatan  dalam  mengembangkan kecerdasan teresebut?  Atau bahkan kita sendiri malah yang sudah membatasi kecerdasan anak hanya pada satu unsur atau bidang kecerdasan tertentu saja.

Padahal kita ketahui bersama bahwa  setiap anak terlahir unik mereka memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dalam hal kecerdasan. Sekalipun itu anak-anak yang memiliki Down syndrome,  tidak menutup kemungkinan mereka memiliki unsur-unsur kecerdasan di luar akademik mereka apabila dikembangkan lebih jauh dapat mencapai optimalisasi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.  Optimalisasi perkembangan anak dapat mencapai maksimal selama kita memahami kemampuan mereka dan memberikan stimulasi sesuai dengan kebutuhannya. Kita masih memiliki harapan mereka dapat berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Bahkan akan  terbuka bagi mereka untuk memiliki dan mencapai keterampilan pada tingkat tertentu  dan mencapai keunggulan pada bidangnya itulah yang dinamakan prestasi.

Dengan intervensi dini dan dukungan dari keluarga dan kalangan profesional yang terkait banyak anak dengan Down syndrome dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri.  Sudah saatnya kita menghapus label atau stigma “idiot” untuk individu Down syndrome. Biarlah mereka menyandang namanya sesuai dengan sindrom yang dimilikinya yaitu  Down syndrome ( sindroma Down). Agar mereka memiliki ruang yang lebih terbuka dan  leluasa dalam mengembangkan unsur-unsur kecerdasan  dan kemajemukan yang dimilikinya  terutama diluar unsur kecerdasan akademik. Keberadaan anak-anak Down syndrome  di dalam keluarga maupun di masyarakat, kerabat, handai taulan, tetangga dekat maupun jauh, guru –guru di sekolah  dan teman-temannya. Mereka memiliki kebutuhan yang sama seperti anak-anak lain pada umumnya, yaitu kebutuhan rasa nyaman , penerimaan yang tulus, dihargai, dipahami , dicintai,  dimaknai dan diberi kesempatan. Itu yang lebih utama dan dapat membuat mereka bahagia juga  dapat menjadi  media sebagai  jalan untuk  menuju masyarakat inklusi.

Pesan Moral :

Manusia diciptakan Allah berbeda-beda, berbeda suku, Bangsa, jenis kelamin, warna kulit, sampai perbedaan dalam organ tubuh. Individu dengan Down syndrome  memiliki perbedaan dalam jumlah kromosom sehingga mempengaruhi terhadap metabolisme tubuh mereka. Kita ketahui dan menyadari semua, pada kenyataanya dari setiap anak yang lahir di dalam sebuah keluarga. Setiap anak memiliki sifat, karakter dan kepribadian yang berbeda satu sama lainnya. Begitu juga individu dengan Down syndrome, meskipun mereka memiliki karakter yang sama terutama yang dapat terlihat dengan kasat mata oleh kita dalam bentuk fisik seperti bentuk muka/ raut muka mereka yang hampir sama. Namun meskipun mereka memiliki kesamaan mereka tetap memiliki perbedaan sifat dan karakter serta kemampuan yang berbeda satu sama lainnya, itulah rahasia besar dari Yang Maha Pencipta. Saatnya kita belajar menghargai perbedaan dari anak – anak Down syndrome, untuk tercipta harmoni yang indah sebagai anugrah dari yang Maha Kuasa.

Bogor, 24  Maret 2012

Explore posts in the same categories: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: